GMPRI Desak Evaluasi ITDC Usai Keracunan Makanan di Kuta Mandalika
Warta Mataram – Peristiwa keracunan makanan yang menimpa puluhan guru dan siswa di Sekolah Dasar Negeri 2 Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, menuai sorotan tajam. Insiden ini terjadi saat kegiatan Goes to School yang diselenggarakan oleh ITDC. Merespons kejadian ini, Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI) meminta Kementerian BUMN untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja ITDC di wilayah Mandalika.
Ketua GMPRI NTB, Rindawanto Evendi, yang akrab disapa Rindhot, menyatakan, “Kejadian ini sangat memalukan. ITDC seharusnya dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Kami tidak habis pikir bagaimana sebuah BUMN bisa sampai melakukan kesalahan fatal seperti ini!”
Rindhot menekankan pentingnya tanggung jawab dari pihak ITDC terkait peristiwa ini, terutama terhadap 38 guru dan siswa yang terdampak. Sebagian dari mereka masih mendapatkan perawatan di Puskesmas Kute.
“Keracunan ini bukanlah masalah sepele. Ini menyangkut keselamatan anak-anak dan tenaga pendidik. Kami berharap pihak ITDC serius menanggapi masalah ini,” imbuhnya. Rindhot menegaskan bahwa tindakan ini harus menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.
Seiring dengan itu, GMPRI juga mendesak agar pihak ITDC mengadakan penyelidikan mendalam terkait penyebab keracunan. “Kami ingin tahu dari mana asal usul makanan yang diberikan dan proses pengolahannya. Jika terbukti ada kelalaian, maka harus ada sanksi yang tegas,” ujar Rindhot.
Menurutnya, tanggung jawab sosial sebuah perusahaan, terutama BUMN, tidak hanya terletak pada pencapaian keuntungan, tetapi juga pada kualitas pelayanan dan keselamatan masyarakat. “Kami tidak ingin nama baik Mandalika dan Indonesia tercoreng akibat kelalaian seperti ini,” tambahnya.
Kejadian ini juga mengingatkan publik akan pentingnya pengawasan terhadap penyedia layanan makanan, terutama dalam acara-acara yang melibatkan sekolah dan anak-anak. “Kami berharap pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih agar setiap makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak dan guru benar-benar memenuhi standar kesehatan,” tutup Rindhot.




