Bitcoin Menguat Mendekati 80.000 Dolar AS
WARTAMATARAM.COM – Harga Bitcoin kembali menguat dan mendekati level 80.000 dolar AS. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin, 27 April 2026, aset kripto utama itu naik 2,24 persen dalam 24 jam terakhir ke kisaran 79.126 dolar AS.
Kenaikan Bitcoin kali ini ditopang oleh permintaan kuat dari investor institusional melalui produk ETF, serta meredanya ketegangan geopolitik global. Dalam beberapa pekan terakhir, aliran dana ke ETF Bitcoin spot tercatat terus positif.
Dalam sepekan hingga 24 April, ETF Bitcoin spot membukukan arus masuk bersih sebesar 824 juta dolar AS. Ini menjadi lanjutan tren positif selama empat pekan berturut-turut. Situasi global yang lebih stabil, termasuk meredanya ketegangan di Timur Tengah dan kembali normalnya jalur perdagangan seperti Selat Hormuz, turut memperbaiki sentimen pasar.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan besar seperti MicroStrategy juga masih menambah kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar. Langkah ini dinilai ikut memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap aset digital tersebut.
Penguatan Bitcoin juga dipengaruhi dinamika pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, nilai likuidasi melonjak 286 persen menjadi sekitar 37,9 juta dolar AS, dengan mayoritas berasal dari posisi short atau taruhan harga turun.
Kondisi itu memicu short squeeze, yaitu saat pelaku pasar yang bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisinya. Situasi ini justru mendorong harga naik lebih cepat.
Secara teknikal, Bitcoin juga berhasil menembus level Fibonacci di sekitar 78.980 dolar AS. Indikator Relative Strength Index atau RSI berada di level 75,7, yang menunjukkan momentum kenaikan masih kuat.
Ke depan, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada kemampuannya menembus resistensi berikutnya. Saat ini, pasar mencermati area 82.000 dolar AS sebagai tembok pasokan, yang berasal dari harga rata-rata pembelian investor jangka pendek.
Jika harga mampu bertahan di atas 79.500 dolar AS, peluang untuk menguji level tersebut dinilai semakin terbuka. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir pada 29 April.
Jika bank sentral Amerika Serikat tetap mempertahankan sikap hawkish, laju kenaikan Bitcoin berpotensi tertahan. Sebaliknya, bila muncul sinyal pelonggaran yang tak terduga, pasar menilai hal itu bisa menjadi katalis tambahan bagi penguatan harga Bitcoin.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
