Harga Emas Melemah di Tengah Ketegangan Geopolitik
Warta Mataram – Harga emas menunjukkan penurunan di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah. Biasanya, emas dipandang sebagai aset yang aman atau ‘safe haven’ yang banyak dicari oleh investor saat situasi geopolitik menjadi tidak stabil.
Namun, situasi kali ini menimbulkan pertanyaan mengapa harga emas tidak naik saat perang mulai berkecamuk. Menurut Ronny P. Sasmita, Analis Senior dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, pasar keuangan tidak selalu beroperasi sesuai teori yang mengaitkan emas dengan status aman dalam situasi genting.
“Penurunan harga emas saat ini lebih menunjukkan dinamika likuiditas global ketimbang perubahan status emas itu sendiri,” kata Ronny. Ia menambahkan bahwa saat ketegangan politik menyebabkan lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, dan meningkatnya yield US Treasury, banyak investor yang melakukan penyesuaian portofolio dengan memasukkan dana ke aset yang menawarkan yield lebih tinggi dalam jangka pendek.
Ronny juga menjelaskan bahwa ini bukan berarti emas kehilangan perannya sebagai safe haven, tetapi lebih kepada tekanan teknis jangka pendek akibat profit taking dari investor institusi yang sebelumnya mendapatkan keuntungan dari reli harga emas yang cukup lama.
Sebagai tambahan, Syafruddin Karimi, seorang Pengamat Ekonomi dari Universitas Andalas, menyebutkan bahwa pasar emas juga受 pengaruh dari arus dana global, penguatan dolar, kebutuhan likuiditas, serta perilaku pembeli fisik. Meskipun ada lonjakan permintaan aman di pasar finansial akibat konflik, pasar fisik di beberapa wilayah belum tentu merespons sama.
Syafruddin menyoroti laporan dari Reuters mengenai diskon harga emas di Dubai, yang menunjukkan bahwa adanya gangguan penerbangan di Timur Tengah membuat suplai emas terhambat di pasar lokal, sementara permintaan fisik dari India dan sekitarnya justru menurun.
Ia menekankan bahwa penurunan harga emas bukanlah indikasi kegagalan sebagai safe haven, melainkan gejala distribusi pasar yang tidak seimbang. Emas masih tetap diincar sebagai pelindung nilai dalam jangka panjang.
Namun, dalam jangka pendek, harga dapat terkoreksi saat pasar melakukan pencairan posisi menunggu perkembangan konflik. Syafruddin menegaskan bahwa emas belum kehilangan nilai sebagai safe haven, meskipun ada koreksi harga setelah lonjakan awal.
Ia mencatat pola ini pernah terjadi pada saat invasi Rusia ke Ukraina, di mana harga emas meroket kemudian mengalami penurunan saat investor mengevaluasi kembali risiko yang ada.
Pada perdagangan Senin (9/3), harga emas Antam tercatat turun sebesar Rp55.000 menjadi Rp3.004.000 per gram. Namun, keesokan harinya, harga emas kembali mengalami kenaikan sebesar Rp8.000 per gram.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
