Seberapa Serius Kita Ingin Ayam Taliwang Mendunia?
Setiap daerah memiliki makanan khas. Namun, tidak semua makanan khas berhasil menjadi ikon dunia. Perbedaannya seringkali bukan terletak pada rasa, melainkan pada cerita yang menyertai. Dunia tidak hanya membeli makanan, tetapi juga sejarah, budaya, dan pengalaman yang melekat di balik setiap sajian.
Lombok memiliki Ayam Taliwang. Rasanya sudah tidak diragukan lagi. Perpaduan ayam kampung muda dengan bumbu cabai, bawang, tomat, terasi, dan rempah-rempah menghasilkan cita rasa yang khas dan sulit dilupakan. Hampir setiap wisatawan yang datang ke Lombok menjadikan Ayam Taliwang sebagai salah satu kuliner yang wajib dicicipi. Namun, setelah puluhan tahun dikenal sebagai ikon kuliner daerah, muncul satu pertanyaan sederhana: berapa banyak orang yang benar-benar mengetahui kisah di balik nama “Taliwang”?
Kalau pertanyaan itu diajukan kepada masyarakat Lombok sendiri, mungkin tidak banyak yang mampu menjawabnya. Padahal, salah satu versi sejarah yang banyak beredar justru sangat menarik. Berbagai sumber, termasuk informasi yang dipublikasikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta sejumlah tulisan sejarah lokal, menceritakan bahwa leluhur masyarakat Karang Taliwang berasal dari Taliwang di Pulau Sumbawa. Mereka datang ke Lombok ketika Kerajaan Selaparang menghadapi konflik dengan Kerajaan Karangasem. Bersama pasukan yang dikirim membantu Selaparang, hadir pula para juru masak dari Kerajaan Taliwang.
Konon, dari dapur para juru masak itulah lahir sajian ayam berbumbu pedas yang kemudian digemari banyak orang. Bahkan terdapat narasi yang menyebutkan bahwa hidangan tersebut menjadi bagian dari diplomasi yang membantu mencairkan hubungan antarkerajaan. Terlepas dari kemungkinan adanya versi sejarah lain yang masih perlu dikaji oleh para sejarawan dan budayawan, kisah ini menyimpan potensi yang luar biasa sebagai identitas budaya.
Ironisnya, cerita seperti ini justru belum menjadi bagian dari pengalaman menikmati Ayam Taliwang. Kita lebih sering berbicara tentang tingkat kepedasan, rumah makan yang paling enak, atau resep yang paling autentik. Padahal, orang cenderung lebih mudah mengingat cerita dibandingkan daftar bumbu.
Inilah yang dipahami oleh banyak negara ketika membangun merek kuliner mereka. Jepang tidak hanya menjual sushi sebagai nasi dan ikan mentah. Mereka menjual filosofi ketelitian, penghormatan terhadap bahan makanan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Prancis tidak sekadar menjual Champagne, tetapi juga sejarah wilayah asalnya yang dijaga selama ratusan tahun. Italia tidak hanya menjual Parmigiano Reggiano sebagai keju, melainkan sebagai simbol tradisi dan kualitas yang tidak dapat dipisahkan dari daerah asalnya. Bahkan Kobe Beef menjadi legenda dunia bukan semata karena kualitas dagingnya, tetapi juga karena cerita yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Semua contoh tersebut menunjukkan satu hal yang sama. Produk mereka tidak berhenti sebagai makanan. Produk mereka berkembang menjadi identitas.
Lalu bagaimana dengan Ayam Taliwang?
Sesungguhnya Lombok memiliki modal yang tidak kalah besar. Jika narasi sejarahnya terus diperkuat melalui penelitian, didokumentasikan dengan baik, kemudian disampaikan secara konsisten kepada wisatawan, maka Ayam Taliwang tidak hanya dikenal sebagai ayam bakar pedas khas Lombok, tapi juga akan dikenal sebagai kuliner yang membawa cerita tentang perjalanan masyarakat, pertemuan budaya, hingga diplomasi pada masa kerajaan.
Sayangnya, kita sering berhenti pada rasa. Kita merasa cukup ketika rumah makan ramai. Kita merasa cukup ketika wisatawan memotret makanan lalu mengunggahnya ke media sosial. Padahal, nilai ekonomi terbesar justru muncul ketika sebuah produk berhasil menjadi cerita yang ingin dibawa pulang oleh para pengunjung.
Di era ekonomi pengalaman, orang tidak lagi membeli produk semata-mata karena fungsi. Mereka membeli makna. Mereka membeli identitas. Mereka membeli pengalaman yang dapat mereka ceritakan kembali kepada orang lain. Karena itulah, storytelling bukan sekadar pelengkap pemasaran, melainkan bagian dari produk itu sendiri.
Bayangkan jika setiap restoran Ayam Taliwang menyajikan selembar kartu kecil berisi kisah mengenai asal-usul nama Taliwang. Bayangkan jika setiap kemasan Ayam Taliwang siap saji memuat ilustrasi perjalanan masyarakat Taliwang menuju Lombok. Bayangkan jika pemandu wisata selalu mengawali pengalaman kuliner dengan cerita mengenai hubungan sejarah Lombok dan Sumbawa. Pengalaman menikmati makanan itu akan berubah. Wisatawan tidak hanya pulang dengan perut kenyang, tetapi juga dengan cerita yang akan mereka bagikan kepada keluarga dan teman-temannya.
Tentu saja, membangun nama besar Ayam Taliwang tidak cukup hanya dengan storytelling. Standar kualitas, kebersihan, inovasi kemasan, distribusi, sertifikasi, hingga kemampuan mengirim produk ke luar daerah dengan kualitas yang tetap terjaga juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting. Namun, tanpa cerita yang kuat, semua upaya itu kehilangan salah satu pembeda yang paling sulit ditiru oleh daerah lain.
Pertanyaan terbesarnya kemudian bukanlah apakah Ayam Taliwang cukup enak untuk dikenal dunia. Rasanya telah membuktikan dirinya selama puluhan tahun. Pertanyaan yang lebih penting adalah, seberapa serius kita ingin menjadikannya sebagai ikon kuliner dunia?
Sebab rasa akan selesai dalam beberapa suapan, tetapi cerita yang terus hidup dapat melintasi generasi. Jika kita ingin Ayam Taliwang benar-benar mendunia, mungkin yang pertama kali harus kita kirim bukan hanya produknya, melainkan kisah yang membuat dunia ingin mencicipinya. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
