Ada satu hal menarik dari 7 September. Tanggal ini mempertemukan dua nama yang mungkin terasa sangat berbeda bagi generasi muda hari ini: Gus Dur dan Munir. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lahir pada 7 September 1940, sementara aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib meninggal pada 7 September 2004. Tanggal yang sama mempertemukan kelahiran dan kepergian, tetapi sekaligus meninggalkan pertanyaan yang masih relevan sampai sekarang: setelah mereka tidak ada, apa yang sebenarnya kita warisi?
Buat sebagian Gen Z, nama Gus Dur mungkin lebih sering muncul sebagai potongan video, meme, quotes, atau cerita tentang humornya yang khas. Munir mungkin lebih dikenal sebagai nama yang muncul setiap September ketika pembicaraan tentang HAM kembali mengemuka. Padahal, kalau kita mau melihat lebih jauh, keduanya bukan sekadar tokoh sejarah yang layak dikenang. Mereka adalah contoh tentang bagaimana seseorang menggunakan hidupnya untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Gus Dur mengajarkan bahwa berbeda tidak harus bermusuhan. Gus Dur bisa bercanda, berdialog, dan bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang, keyakinan, maupun pandangan politik. Presiden RI ke-4 ini memperlihatkan bahwa toleransi bukan berarti kehilangan prinsip, tetapi memiliki cukup keluasan batin untuk menghormati manusia lain tanpa harus menjadi sama dengannya.
Munir menunjukkan sisi keberanian yang lain. Ia memilih berdiri bersama mereka yang mengalami ketidakadilan dan memperjuangkan hak asasi manusia, termasuk ketika perjuangan itu berarti berhadapan dengan kekuasaan. Pada 7 September 2004, Munir meninggal dalam perjalanan menuju Amsterdam. Namanya kemudian menjadi simbol penting dalam perjuangan HAM di Indonesia, sementara kasus kematiannya terus menjadi bagian dari ingatan publik.
Kita hidup pada zaman ketika hampir semua orang memiliki ruang untuk berbicara. Dulu, untuk menyampaikan pendapat kita membutuhkan koran, radio, televisi, atau panggung. Sekarang cukup membuka TikTok, Instagram, X, atau platform lainnya. Satu unggahan bisa dilihat ribuan bahkan jutaan orang. Kita memiliki kebebasan berbicara yang jauh lebih besar daripada generasi sebelumnya. Namun, kebebasan berbicara tidak otomatis membuat kita lebih berani.
Kadang kita hanya berani ketika berada di belakang layar. Kita berani menghina orang yang berbeda di kolom komentar, tetapi tidak berani menyampaikan pendapat dengan santun ketika berhadapan langsung. Kita berani mengikuti opini mayoritas karena takut dianggap aneh. Kita ikut membagikan sesuatu karena sedang viral, meskipun belum tahu apakah informasinya benar. Bahkan, kita kadang ikut membenci seseorang hanya karena algoritma terus-menerus menyajikan konten yang membuat kita percaya bahwa orang tersebut memang layak dibenci.
Keberanian bukan sekadar berani viral. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap berpikir ketika semua orang sedang terbawa arus. Berani mengatakan, “Saya berbeda pendapat,” tanpa harus merendahkan. Berani mengoreksi teman sendiri ketika ia keliru. Berani membela seseorang yang sedang menjadi sasaran perundungan. Dan berani mengakui, “Mungkin saya yang salah.”
Ini tidak mudah karena manusia pada dasarnya senang berada di dalam kelompok yang membuatnya merasa aman. Kita ingin diterima. Kita ingin mendapatkan likes. Kita ingin pendapat kita dianggap benar. Tetapi kalau seluruh keputusan kita ditentukan oleh kebutuhan untuk diterima, kebebasan perlahan berubah menjadi ketergantungan pada validasi.
Karena itu, mungkin tantangan terbesar Gen Z bukan sekadar literasi digital, tetapi literasi batin. Kita perlu belajar mengenali kapan kita sedang marah, kapan sedang ikut-ikutan, kapan sedang mencari validasi, dan kapan sebenarnya kita sedang mempertahankan ego. Sebelum membalas komentar, misalnya, kita bisa bertanya sederhana: apakah respons ini benar-benar perlu? Sebelum ikut menghakimi seseorang, kita bisa bertanya: apakah saya sudah mengetahui seluruh ceritanya?
Kesadaran semacam itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi penting di tengah dunia digital yang bergerak sangat cepat. Algoritma bekerja dengan menarik perhatian kita. Konten yang memancing emosi sering lebih mudah mendapatkan respons. Karena itu, semakin cepat dunia digital bergerak, semakin kita membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menjadi pasif, tetapi agar kita tidak selalu bereaksi secara otomatis.
Gus Dur memberi pelajaran tentang keberanian menerima perbedaan. Munir memberi pelajaran tentang keberanian melawan ketidakadilan. Jika keduanya dipertemukan dalam konteks generasi sekarang, pesannya mungkin: jangan gunakan kebebasan hanya untuk membuktikan bahwa kita benar. Gunakan kebebasan untuk membuat kehidupan bersama menjadi lebih manusiawi.
Kita boleh berbeda pilihan politik, berbeda selera musik, berbeda cara berpakaian, berbeda keyakinan, bahkan berbeda pandangan tentang masa depan, tetapi perbedaan itu tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghormati manusia lain. Mungkin inilah warisan yang paling relevan dari Gus Dur dan Munir untuk anak muda hari ini. Bukan sekadar menghafal nama mereka, mengunggah foto mereka setiap 7 September, atau membuat konten tentang quotes mereka.
Warisan mereka baru benar-benar hidup ketika kita berani mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari: ketika kita memilih tidak ikut merundung, ketika kita berani menyuarakan ketidakadilan, ketika kita menghormati teman yang berbeda, dan ketika kita cukup sadar untuk tidak menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan ego. Sebab, kualitas sebuah generasi tidak hanya terlihat dari seberapa cepat ia menguasai teknologi, tetapi dari seberapa manusiawi ia menggunakan teknologi tersebut.
Kita sudah punya FYP. Kita sudah punya kebebasan bicara. Kita sudah punya teknologi untuk membuat suara kita terdengar jauh lebih luas. Sekarang pertanyaannya: apakah kita juga punya keberanian, toleransi, dan kesadaran untuk menggunakan semua itu dengan benar? Setelah Gus Dur dan Munir tiada, mungkin tugas kita bukan menjadi seperti mereka. Tugas kita adalah memastikan bahwa keberanian, kemanusiaan, dan toleransi yang mereka perjuangkan tidak ikut mati bersama mereka. (*)




