Sehari setelah kebakaran melanda Kampung Adat Sade, pemandangan yang tersisa terasa lebih dari sekadar kerusakan bangunan. Rumah-rumah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak berubah menjadi puing. Kayu menghitam, bambu terbakar, dan barang-barang rumah tangga berserakan di antara sisa bangunan.
Bagi wisatawan, Sade mungkin dikenal sebagai salah satu destinasi budaya di Lombok. Namun bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, Sade adalah rumah. Di sanalah keluarga hidup, tradisi diwariskan, kain ditenun, anak-anak tumbuh, dan hubungan sosial berlangsung dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang membangun kembali Sade setelah kebakaran, pertanyaannya tidak cukup hanya bagaimana membuat rumah-rumah kembali berdiri. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Sade seperti apa yang ingin kita bangun kembali?
Sebagai dosen yang mempelajari manajemen, khususnya manajemen pemasaran, saya melihat persoalan Sade dari dua sisi sekaligus. Sade adalah ruang hidup masyarakat dan pada saat yang sama telah menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata Lombok.
Ketika sebuah destinasi budaya mengalami kerusakan, naluri pertama kita biasanya adalah mengembalikan bentuk fisiknya. Rumah dibangun kembali, jalan ditata, kawasan dibersihkan, kemudian wisatawan diharapkan kembali datang. Langkah tersebut tentu diperlukan. Tetapi jika berhenti di sana, kita berisiko membangun sesuatu yang secara visual terlihat seperti Sade, tetapi secara substansi tidak lagi menjadi Sade.
Dalam pemasaran, sebuah merek tidak dibangun hanya dari tampilan. Logo dapat dibuat ulang. Kemasan dapat diganti. Warna dapat diperbarui. Namun nilai sebuah merek lahir dari pengalaman dan makna yang konsisten. Begitu pula dengan Sade. Nilai Sade bukan semata-mata terletak pada rumah beratap alang-alang, dinding bambu, atau bentuk kampung tradisional. Nilai Sade berada pada masyarakat Sasak yang menjalankan kehidupan dan tradisi di dalamnya.
Salah satu kekuatan Sade sebagai destinasi justru karena Sade bukan sekadar museum budaya. Wisatawan datang dan melihat kehidupan yang benar-benar berlangsung. Ada masyarakat yang tinggal di rumah tradisional, perempuan yang menenun, warga yang menjual kerajinan, serta pemandu lokal yang menceritakan sejarah dan kehidupan masyarakat Sasak. Pengalaman tersebut memiliki nilai yang sulit direplikasi. Wisatawan tidak hanya melihat benda budaya. Wisatawan merasakan sebuah kehidupan.
Dalam perspektif pemasaran pariwisata, pengalaman autentik semacam ini merupakan aset yang sangat berharga. Wisatawan dapat melihat replika rumah tradisional di berbagai tempat, tetapi pengalaman bertemu dengan masyarakat yang masih menjalankan tradisi dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah dibuat.
Karena itu, jangan sampai proses pemulihan justru mengubah Sade menjadi semacam panggung wisata yang kehilangan kehidupan aslinya. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek yang ditonton, sementara keputusan tentang masa depan kampung lebih banyak ditentukan dari perspektif kebutuhan wisatawan.
Jika Sade dibangun kembali, masyarakat harus menjadi subjek utama dalam proses tersebut. Mereka bukan sekadar penerima bantuan, bukan sekadar penghuni rumah baru, dan bukan pula sekadar pelengkap atraksi wisata. Masyarakat adalah pemilik pengetahuan tentang Sade. Masyarakat memahami bagaimana rumah dibangun, bagaimana ruang sosial digunakan, bagaimana tradisi dijalankan, bagaimana kain ditenun, dan bagaimana hubungan antarkeluarga dipelihara.
Karena itu, proses rekonstruksi seharusnya tidak hanya bertanya kepada arsitek atau perencana tentang bagaimana Sade terlihat. Proses tersebut juga harus bertanya kepada masyarakat tentang bagaimana Sade seharusnya tetap hidup.
Pembangunan kembali harus bertemu dengan pemberdayaan. Penenun harus kembali memiliki ruang untuk menenun. Pemandu lokal harus kembali memiliki ruang untuk bekerja. Pelaku usaha kecil harus kembali memperoleh penghasilan. Anak-anak harus tetap tumbuh dengan mengenal sejarah dan tradisi kampungnya. Jika masyarakat kembali hidup, Sade juga akan kembali hidup.
Pariwisata Lombok sedang berkembang dan Sade memiliki posisi strategis dalam ekosistem tersebut. Lokasinya yang berada di kawasan Pujut membuat Sade menjadi bagian dari pengalaman wisata yang terhubung dengan Mandalika dan berbagai destinasi lain di Lombok.
Namun semakin besar nilai ekonomi sebuah destinasi, semakin besar pula godaan untuk mengubahnya menjadi produk wisata yang terlalu dikomersialkan. Disinilah prinsip autentisitas harus dijaga. Sade tidak perlu menjadi lebih mewah untuk menjadi lebih bernilai. Sade justru bernilai karena memiliki karakter yang berbeda dari destinasi lain.
Jika semua unsur kehidupan masyarakat dipoles hanya agar terlihat menarik bagi wisatawan, perlahan-lahan Sade dapat kehilangan alasan mengapa wisatawan datang sejak awal. Paradoksnya sederhana. Semakin Sade dipaksa menjadi produk wisata, semakin besar risiko Sade kehilangan daya tarik budayanya.
Kebakaran ini tentu membawa duka dan kerugian besar bagi masyarakat. Tetapi dari sisi tata kelola destinasi, musibah tersebut juga harus menjadi momentum evaluasi. Bagaimana sistem keselamatan kawasan tradisional diperkuat tanpa menghilangkan karakter arsitektur lokal? Bagaimana mitigasi kebakaran dirancang? Bagaimana jalur evakuasi disiapkan? Bagaimana masyarakat dilibatkan dalam kesiapsiagaan bencana? Pertanyaan tersebut penting karena pelestarian budaya dan keselamatan masyarakat tidak boleh dipertentangkan.
Kita bisa menjaga rumah tradisional sekaligus memperkuat sistem keselamatan. Kita bisa mempertahankan identitas Sade sekaligus meningkatkan ketahanan kawasan terhadap risiko bencana.
Inilah yang seharusnya menjadi bagian dari konsep destination resilience, yaitu kemampuan sebuah destinasi untuk menghadapi gangguan, beradaptasi, dan bangkit kembali tanpa kehilangan identitasnya. Pemulihan Sade tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak rumah yang kembali berdiri atau seberapa cepat wisatawan kembali berkunjung.
Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah masyarakat kembali memiliki rumah, penghidupan, ruang budaya, dan masa depan. Jika rumah-rumah kembali berdiri tetapi masyarakat kehilangan ruang untuk menjalankan tradisi, kita hanya membangun fisiknya. Jika wisatawan kembali ramai tetapi manfaat ekonomi tidak kembali kepada masyarakat, kita hanya memulihkan industrinya. Jika Sade terlihat indah tetapi kehidupan masyarakat berubah menjadi sekadar pertunjukan, kita mungkin telah membangun destinasi baru dengan nama lama.
Karena itu, Sade harus kembali menjadi Sade. Bukan sekadar kampung yang dibangun kembali untuk menyambut wisatawan, tetapi kampung yang kembali menjadi rumah bagi masyarakat Sasak. Bukan sekadar objek wisata, tetapi ruang hidup. Bukan sekadar aset ekonomi, tetapi warisan budaya. Dan bukan sekadar tempat untuk mengambil foto, tetapi tempat untuk memahami sebuah identitas.
Kebakaran mungkin telah menghanguskan sebagian wajah Sade. Namun jangan biarkan proses pembangunan kembali menghapus jiwanya. Bagi pariwisata Lombok, nilai terbesar Sade bukan pada apa yang wisatawan lihat. Nilai terbesar Sade terletak pada kehidupan yang masih berlangsung di balik apa yang wisatawan lihat.
Sade harus kembali menjadi Sade. Dan kali ini, pembangunan kembali harus dimulai dari masyarakatnya, bukan semata-mata dari kebutuhan wisatanya. (*)




