Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar AS pada Mei Ini

15 May 2026 • 07:20 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada Mei 2026 dan berpotensi melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga meningkatnya kebutuhan dolar di dalam negeri.

“Rupiah di bulan Mei kemungkinan besar masih akan terus mengalami kelemahan. Ya level Rp17.550 dalam minggu ini kemungkinan besar akan tercapai. Ada kemungkinan besar rupiah juga kembali melemah di level Rp18.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis, 14 Mei 2026.

Menurut dia, ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Memudarnya peluang gencatan senjata antara Iran dan AS disebut membuat jalur perdagangan energi dunia tetap terganggu.

“Sehingga transportasi LPG, gas alam maupun minyak mentah ini terhambat total, 20 persen terhambat total dan ini akan berdampak terhadap penguatan indeks dolar dan menguatnya harga minyak mentah dunia,” katanya.

Ibrahim juga menyoroti konflik yang masih berlangsung antara Israel, Iran, dan Hezbollah di Lebanon Selatan yang dinilai menambah ketidakpastian global. Ia memperkirakan ketegangan di Timur Tengah masih akan berlanjut dalam waktu yang panjang.

“Nah ini yang membuat ketegangan di Timur Tengah kemungkinan besar masih akan berlanjut sampai tahun 2027 apalagi di Selat Hormuz,” tuturnya.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia dinilai menjadi ancaman bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi. Ibrahim menyebut harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) saat ini berada di kisaran 101 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN yang mematok harga minyak 70 dolar AS per barel dan kurs Rp16.500 per dolar AS.

“Indonesia 1,5 juta barel per hari yang melakukan impor dari luar,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat kebutuhan subsidi energi pemerintah meningkat, terutama karena mayoritas impor digunakan untuk bahan bakar minyak bersubsidi. Pada saat pasokan dolar menipis sementara permintaan tinggi, rupiah pun semakin tertekan.

“Nah ini yang membuat Rupiah kemungkinan besar, di bulan Mei tahun 2026, Rupiah yang kemungkinan besar akan tembus di level Rp18.000,” pungkasnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya