Coffee Shop Bukan Kantor: Mengapa Kopsel Coffee Berani Berbeda?

Foto di Kopsel Coffee (Dok. Pribadi)
Foto di Kopsel Coffee (Dok. Pribadi)

Beberapa tahun terakhir, fungsi coffee shop tampaknya telah berubah. Dahulu orang datang ke kedai kopi untuk menikmati secangkir kopi sambil berbincang. Kini, banyak coffee shop justru menjelma menjadi kantor kedua. Meja dipenuhi laptop, colokan listrik menjadi rebutan, dan secangkir kopi bisa menemani seseorang bekerja selama berjam-jam.

Karena itu, saya cukup terkejut ketika mengunjungi Kopsel di Jalan Harimau, Mataram, pada Sabtu malam, 1 Agustus 2026.

Sudah beberapa kali saya melewati jalan itu dan hampir selalu melihat tempat ini ramai. Dominasi warna oranyenya cukup mencolok dan mengingatkan saya pada Tomoro Coffee. Rasa penasaran akhirnya membawa saya dan istri untuk mampir. Seperti biasa, mata saya langsung mencari menu kopi. Pilihan saya jatuh pada Dirty Latte, sedangkan istri memilih Cheese Butter Cream. Sebelum pesanan datang, kami disuguhi segelas air mineral dingin sebagai welcome drink, sebuah sentuhan sederhana yang menurut saya cukup menyenangkan.

Dirty Latte yang saya pesan memiliki karakter yang ringan dengan sentuhan rasa buah sehingga tidak terlalu kuat. Cukup nyaman dinikmati sambil mengobrol. Namun, malam itu perhatian saya justru lebih banyak tertuju pada suasana dibandingkan rasa kopinya.

Sebagai dosen yang mengajar manajemen pemasaran, saya sering menikmati kebiasaan mengamati perilaku konsumen. Hampir seluruh meja malam itu terisi oleh anak-anak muda. Ada yang datang bersama teman, ada yang bersama pasangan, ada pula yang terlihat baru selesai beraktivitas. Saya dan istri mungkin menjadi salah satu pengunjung yang usianya sedikit lebih senior dibanding mayoritas pelanggan malam itu.

Lalu saya menyadari sesuatu yang cukup menarik. Tidak ada musik yang mengisi ruangan. Yang terdengar hanyalah suara percakapan para pengunjung. Tawa, candaan, hingga obrolan ringan menjadi latar suasana malam itu. Saya pun mulai memperhatikan meja demi meja.

Tidak ada laptop yang terbuka.

Pemandangan ini terasa cukup berbeda dibandingkan beberapa coffee shop lain yang biasa saya kunjungi. Di Fore Coffee atau beberapa gerai Kopi Kenangan, misalnya, orang bekerja dengan laptop sudah menjadi pemandangan yang sangat lazim. Tata ruang, pencahayaan, hingga suasananya memang terasa mendukung untuk bekerja dalam waktu yang cukup lama.

Di Kopsel, saya tidak merasakan pengalaman seperti itu. Di situlah muncul satu kalimat sederhana dalam benak saya, “Jangan sambil kerja di Kopsel.”

Kalimat tersebut tentu bukan berarti Kopsel kurang nyaman. Justru sebaliknya. Saya melihat mereka memiliki karakter yang berbeda. Dan dalam pemasaran, karakter seringkali jauh lebih penting daripada berusaha menyenangkan semua orang.

Banyak pelaku usaha masih berpikir bahwa semakin banyak kebutuhan pelanggan yang dipenuhi, maka semakin besar peluang bisnisnya berkembang. Akibatnya, semua fasilitas ingin disediakan sekaligus. Tempat harus nyaman untuk bekerja, nyaman untuk nongkrong, nyaman untuk rapat, nyaman untuk keluarga, nyaman untuk komunitas, bahkan nyaman untuk membuat konten media sosial.

Padahal, ketika semua ingin dirangkul, identitas sebuah merek justru sering kehilangan arah.

Foto beberapa varian biji kopi yang dipajang di Kopsel Coffee (Dok. Pribadi)

Dalam perspektif mindful marketing, sebuah merek yang kuat bukanlah merek yang mencoba menjadi segalanya bagi semua orang. Sebaliknya, merek yang kuat adalah merek yang memahami pengalaman seperti apa yang ingin ia ciptakan.

Saya melihat Kopsel lebih memilih menjadi ruang untuk percakapan. Hal itu tercermin dari suasananya. Meja-meja yang cukup dekat, percakapan yang menjadi “musik alami”, serta ritme ruang yang hidup membuat orang terdorong untuk berinteraksi. Tanpa disadari, desain ruang tersebut mengarahkan perilaku pelanggan.

Dalam ilmu pemasaran jasa, konsep ini dikenal sebagai servicescape. Lingkungan fisik bukan hanya soal estetika, tetapi juga alat komunikasi. Tata letak meja, pencahayaan, aroma, kebisingan, hingga musik dapat memengaruhi bagaimana pelanggan menggunakan sebuah ruang. Ketika sebuah coffee shop menyediakan banyak colokan, meja besar, dan kursi yang nyaman untuk duduk lama, pelanggan akan menangkap pesan bahwa tempat tersebut cocok dijadikan ruang bekerja. Sebaliknya, ketika ruang lebih mendorong interaksi sosial, pelanggan akan menggunakan tempat itu sesuai dengan pengalaman yang dibangun.

Dari sisi bisnis, pilihan seperti ini juga memiliki logikanya sendiri. Coffee shop yang dipenuhi orang bekerja sering menghadapi perputaran meja yang lambat. Satu pelanggan dapat menempati satu meja selama beberapa jam hanya dengan satu gelas kopi. Sebaliknya, tempat yang lebih mengedepankan percakapan biasanya memiliki tingkat pergantian pelanggan yang lebih cepat, terutama pada malam hari atau akhir pekan.

Saya tentu tidak mengetahui apakah hal itu memang menjadi strategi Kopsel atau tidak. Namun, sebagai pengamat pemasaran, saya melihat suasana yang terbentuk malam itu terasa cukup konsisten.

Ada satu refleksi yang menurut saya lebih penting. Di era digital, kita semakin sulit benar-benar hadir bersama orang lain. Bahkan ketika duduk satu meja, perhatian kita sering terbagi oleh layar telepon genggam atau laptop. Coffee shop perlahan berubah menjadi ruang kerja, bukan lagi ruang percakapan.

Malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Anak-anak muda benar-benar berbincang. Mereka saling mendengarkan, tertawa, dan menikmati kebersamaan. Tidak ada suara notifikasi rapat daring, tidak ada presentasi yang sedang diperbaiki, tidak ada wajah-wajah yang sibuk berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.

Barangkali tanpa disadari, Kopsel sedang mengingatkan kita pada fungsi awal sebuah kedai kopi, yaitu tempat orang bertemu.

Akhirnya, saya pulang bukan hanya dengan kesan tentang Dirty Latte yang cukup nikmat, tetapi juga dengan satu pelajaran sederhana. Tidak semua coffee shop harus menjadi kantor kedua. Ada yang memang memilih menjadi ruang untuk bekerja, dan ada pula yang memilih menjadi ruang untuk berbicara.

Saya justru berharap semakin banyak pelaku usaha yang berani mengambil posisi seperti ini. Sebab dalam pemasaran, menjadi berbeda seringkali lebih berharga daripada sekadar menjadi lengkap.

Jadi, jika kamu sedang mencari tempat untuk menyelesaikan laporan atau membuka laptop selama berjam-jam, mungkin ada pilihan lain yang lebih tepat. Namun jika ingin menikmati kopi sambil berbincang dengan teman, pasangan, atau keluarga kecil, Kopsel layak dicoba.

Karena kadang-kadang, secangkir kopi tidak diciptakan untuk menemani pekerjaan, tapi diciptakan untuk menemani percakapan. (*)

Adi Prayuda
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya