UMKM NTB di Era Digital: Ketika Pemasaran Tidak Cukup Hanya Viral

Foto Adi Prayuda memegang Buku Mindful Digital Marketing (Dok. Pribadi)
Foto Adi Prayuda memegang Buku Mindful Digital Marketing (Dok. Pribadi)

Di Mataram dan berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat, perubahan cara orang berbisnis terasa semakin nyata. Dulu, sebuah usaha mungkin cukup dikenal oleh lingkungan sekitar melalui papan nama, rekomendasi dari mulut ke mulut, atau pelanggan yang datang secara langsung. Kini, sebuah warung makan, kedai kopi, toko oleh-oleh, usaha fesyen, jasa perjalanan, hingga penginapan dapat dikenal oleh orang dari luar daerah hanya karena satu video yang muncul di media sosial.

Perubahan ini membuka peluang besar bagi pelaku UMKM NTB. Produk lokal yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini dapat dipromosikan melalui Instagram, TikTok, WhatsApp, marketplace, maupun Google. Pelaku usaha tidak harus memiliki modal promosi yang besar untuk mulai membangun merek. Sebuah telepon genggam, kemampuan membuat konten, dan konsistensi berkomunikasi dengan calon pelanggan bahkan dapat menjadi modal awal yang sangat berarti.

Namun, di tengah peluang tersebut, ada persoalan yang menurut saya semakin penting untuk dibicarakan: apakah digital marketing yang dilakukan pelaku usaha kita sudah benar-benar membantu bisnis tumbuh secara sehat, atau justru membuat kita terjebak dalam perlombaan untuk sekadar menjadi viral?

Pertanyaan ini bukan sesuatu yang sederhana. Dalam ekosistem digital hari ini, perhatian menjadi komoditas yang sangat mahal. Pelaku usaha berlomba membuat video yang menarik, mengikuti tren, menggunakan musik yang sedang populer, membuat promosi dengan harga terbatas, dan mencari cara agar algoritma media sosial memberikan jangkauan yang lebih besar. Semua itu sah dan memang bagian dari strategi pemasaran digital. Masalahnya muncul ketika viralitas mulai dianggap sebagai tujuan akhir.

Sebuah konten dapat memperoleh ribuan tayangan tetapi tidak menghasilkan pelanggan. Sebuah akun dapat memiliki banyak pengikut tetapi tidak memiliki hubungan yang kuat dengan konsumennya. Sebuah promosi dapat menghasilkan penjualan dalam jumlah besar tetapi meninggalkan pelanggan yang kecewa karena informasi produk tidak sesuai dengan kenyataan. Disinilah pelaku UMKM perlu mulai melihat digital marketing secara lebih utuh.

Pemasaran digital bukan hanya tentang bagaimana membuat orang melihat produk kita, tetapi juga bagaimana membuat mereka percaya. Bukan sekadar bagaimana mendapatkan transaksi pertama, tetapi bagaimana membuat pelanggan bersedia kembali. Dan bukan hanya bagaimana memenangkan perhatian hari ini, tetapi bagaimana membangun reputasi yang tetap bernilai dalam jangka panjang.

Dalam konteks NTB, hal ini menjadi semakin penting karena daerah kita tidak hanya memiliki pasar lokal, tetapi juga berada dalam ekosistem pariwisata yang terus berkembang. Mataram menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi, sementara berbagai destinasi di Lombok dan Sumbawa mempertemukan pelaku usaha lokal dengan wisatawan dari berbagai daerah dan negara. Produk kuliner, kerajinan, fesyen, akomodasi, jasa perjalanan, hingga berbagai pengalaman lokal memiliki peluang untuk dipasarkan jauh melampaui batas geografis. Tetapi semakin luas pasar yang ingin dijangkau, semakin besar pula tanggung jawab sebuah bisnis dalam berkomunikasi.

Promosi makanan, misalnya, tidak cukup hanya menampilkan foto yang menggugah selera jika kenyataan yang diterima pelanggan jauh berbeda. Penginapan tidak cukup menampilkan sudut terbaik kamar jika informasi penting mengenai fasilitas sengaja disembunyikan. Produk UMKM tidak cukup menggunakan narasi “produk lokal berkualitas” jika kualitas dan proses produksinya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah etika dalam digital marketing menjadi penting. Kejujuran bukan hanya persoalan moral, tetapi juga modal bisnis. Di era ketika pengalaman pelanggan dapat dibagikan dalam hitungan detik melalui ulasan dan media sosial, reputasi sebuah usaha dapat dibangun bertahun-tahun tetapi rusak hanya oleh beberapa pengalaman buruk.

Selain etika, pelaku usaha juga membutuhkan empati. Kita sering berbicara tentang konsumen sebagai target pasar, tetapi lupa bahwa di balik setiap transaksi terdapat manusia dengan kebutuhan, kondisi ekonomi, preferensi, dan persoalan yang berbeda. Konten yang dibuat dengan empati tidak hanya bertanya, “Apa yang ingin kita jual?”, tetapi juga “Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang yang melihat konten ini?”

Perubahan cara pandang tersebut dapat membuat strategi pemasaran menjadi lebih manusiawi. Konten edukasi tidak dibuat semata-mata untuk mendapatkan engagement, tetapi karena memang ada informasi yang bermanfaat. Cerita tentang sebuah produk lokal tidak hanya dibuat agar terlihat menarik, tetapi juga untuk memperkenalkan proses, nilai, dan manusia yang berada di balik produk tersebut. Pelayanan melalui WhatsApp tidak hanya menjadi tempat menerima pesanan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman pelanggan terhadap sebuah merek.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberlanjutan. Pertumbuhan bisnis lokal tentu merupakan sesuatu yang baik, tetapi kita juga perlu bertanya seperti apa pertumbuhan yang ingin kita bangun. Apakah bisnis hanya mengejar semakin banyak transaksi, atau juga menciptakan manfaat bagi masyarakat sekitar? Apakah produk lokal mampu tumbuh tanpa kehilangan identitasnya? Apakah perkembangan pariwisata juga memberikan ruang yang adil bagi pelaku usaha lokal?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada gagasan mindful digital marketing, yaitu pendekatan pemasaran digital yang berusaha menghadirkan kesadaran dalam setiap keputusan pemasaran. Mindfulness dalam konteks bisnis bukan berarti mengurangi ambisi atau menolak teknologi. Justru sebaliknya, teknologi tetap digunakan, tetapi dengan kesadaran terhadap tujuan dan dampaknya.

Pelaku UMKM tetap boleh mengejar penjualan, menggunakan iklan digital, membuat konten yang menarik, memanfaatkan kecerdasan buatan, dan mengikuti perkembangan algoritma. Namun, di tengah semua itu, ada baiknya sesekali mengambil jeda untuk bertanya: apakah cara kita memasarkan produk sudah jujur? Apakah pelanggan diperlakukan dengan baik? Apakah konten kita memberikan nilai? Apakah data pelanggan dijaga? Dan apakah pertumbuhan bisnis kita juga membawa manfaat bagi lingkungan sosial di sekitarnya?

Saya melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin relevan bagi masa depan bisnis di NTB. Kita sedang berada dalam momentum ketika ekonomi lokal, pariwisata, UMKM, dan teknologi digital bertemu dalam ruang yang sama. Peluangnya besar, tetapi keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak bisnis lokal kita menjadi viral. Sebab viralitas hanya memberikan perhatian, sementara kepercayaanlah yang membangun bisnis.

Dari kegelisahan mengenai hal tersebut kemudian lahir buku Mindful Digital Marketing: Etika, Empati, dan Keberlanjutan dalam Bisnis Online. Buku ini mencoba membahas bagaimana prinsip mindfulness dapat diterapkan dalam berbagai aspek pemasaran digital, mulai dari etika, empati, branding, strategi konten, media sosial, periklanan, pemanfaatan data, customer journey, hingga keberlanjutan bisnis.

Namun, gagasan besarnya sederhana: teknologi seharusnya membuat bisnis semakin manusiawi, bukan sebaliknya.

Bagi UMKM NTB, mungkin inilah saatnya kita tidak hanya bertanya bagaimana agar produk lokal kita semakin dikenal dunia, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa ketika dunia mengenal kita, yang mereka temukan adalah bisnis-bisnis yang jujur, autentik, bertanggung jawab, dan memberi manfaat. Karena pada akhirnya, bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang berhasil menarik perhatian, tapi bisnis yang mampu mendapatkan kepercayaan, menjaga hubungan, dan tumbuh bersama masyarakat yang menjadi tempatnya berpijak. (*)

Adi Prayuda
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya