Kreator Konten yang Menjadi Tahanan Algoritma
Suatu hari, seorang kreator membuat video membantu seorang pengemis. Videonya viral. Penonton terharu, jumlah pengikut melonjak, produk yang dipromosikan ikut laris. Beberapa minggu kemudian, ia membuat konten serupa. Lalu serupa lagi. Lama-kelamaan, bantuan yang diberikan bukan lagi lahir dari kepedulian, melainkan dari kebutuhan untuk mempertahankan angka tayangan. Agoritma mulai mengambil alih.
Media sosial memang memberi ruang bagi siapa saja untuk berkarya. Namun, pada saat yang sama, algoritma juga memberi “hadiah” kepada konten yang paling mampu memancing perhatian dan emosi. Kreator pun belajar bahwa rasa haru, sedih, marah, atau kejutan lebih mudah menghasilkan jangkauan dibanding sekadar informasi biasa.
Tidak ada yang salah dengan menyentuh emosi. Storytelling telah lama menjadi bagian dari dunia pemasaran. Yang menjadi persoalan adalah ketika emosi dibangun melalui adegan yang direkayasa, tetapi sengaja dibuat seolah-olah merupakan kejadian nyata.
Konten settingan bukan masalah jika sejak awal diakui sebagai dramatisasi. Film dan iklan juga dibuat berdasarkan skenario. Masalah muncul ketika penonton dibuat percaya bahwa semua itu spontan, padahal telah disusun dengan talent, naskah, dan pengambilan gambar yang matang. Yang dijual bukan lagi cerita, melainkan ilusi.
Ironisnya, strategi seperti ini sering dianggap berhasil karena mampu mendatangkan transaksi. Namun, keberhasilan itu menyimpan risiko yang lebih besar, yaitu menurunnya kepercayaan publik. Masyarakat menjadi semakin sulit percaya pada aksi kebaikan yang benar-benar tulus karena terlalu sering menemukan konten yang ternyata hanyalah rekayasa.
Lebih dari itu, kreator sendiri perlahan menjadi tahanan algoritma. Setelah viral karena satu drama, mereka dituntut membuat drama berikutnya yang lebih mengharukan, lebih mengejutkan, atau lebih ekstrem. Sensasi yang kemarin berhasil, hari ini sudah terasa biasa. Akhirnya mereka harus terus menaikkan dosis emosi agar tetap relevan.
Padahal, brand yang sehat dibangun bukan oleh sensasi yang terus diperbesar, melainkan oleh kepercayaan yang terus dipelihara. Sekali publik merasa ditipu, kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dipulihkan daripada mengejar jutaan tayangan baru.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Kreativitas tidak harus mengorbankan kejujuran. Jika sebuah konten merupakan dramatisasi, katakanlah bahwa itu adalah dramatisasi. Penonton tetap bisa tersentuh tanpa harus merasa dibohongi. Ingat bahwa algoritma hanya mengejar perhatian. Manusialah yang seharusnya menjaga kepercayaan. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
