Waspada, Titik Api yang Disulut Bisa Picu Instabilitas Nasional
WARTAMATARAM.COM – Gelombang peristiwa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai bukan sekadar dinamika biasa dalam kehidupan demokrasi. Sejumlah aksi yang berujung ricuh di berbagai daerah disebut menunjukkan adanya pola yang patut diwaspadai.
Dalam pandangan penulis, rangkaian peristiwa di Yogyakarta pada 24 Februari 2026 dan kejadian di Kalimantan Timur yang bertepatan dengan Hari Kartini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Keduanya dipandang sebagai bagian dari pola yang lebih besar dan terstruktur, dengan memanfaatkan momentum sosial-politik secara cermat.
Aksi di Yogyakarta disebut sebagai fase pemanasan untuk mengukur respons publik, aparat, dan media. Sementara itu, eskalasi di Kalimantan Timur dinilai memanfaatkan simbol Hari Kartini yang merepresentasikan perjuangan dan keberanian perempuan untuk membangun legitimasi emosional di tengah masyarakat.
Menurut penulis, pola semacam ini bukan hal baru. Ia disebut mengingatkan pada skenario yang pernah terjadi sebelumnya, ketika isu diperbesar, emosi publik dipompa, lalu diarahkan pada upaya delegitimasi terhadap pemerintah.
Penulis juga menyoroti peran ruang digital sebagai medan utama penyebaran narasi, hoaks, dan disinformasi. Isu yang diangkat disebut cenderung menyasar emosi publik, seperti tudingan kesewenang-wenangan pemerintah, otoritarianisme, militerisme, hingga narasi kembalinya Orde Baru.
Dalam tulisan itu, momentum 1 Mei atau Hari Buruh Internasional juga disebut berpotensi menjadi titik penting karena aksi massa yang rutin digelar dapat dengan mudah ditunggangi pihak-pihak yang ingin menciptakan instabilitas. Aksi damai, menurut penulis, bisa berubah menjadi kerusuhan jika ada provokasi yang terencana.
Penulis memperkirakan pola serupa dapat terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, dengan memanfaatkan berbagai momentum dan kemungkinan membesar jika terjadi korban jiwa. Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada terhadap informasi yang belum jelas sumbernya dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memancing emosi.
Di akhir tulisannya, penulis menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan dalam demokrasi, tetapi harus berbasis data dan bersifat membangun. Ia juga mengajak masyarakat menjaga persatuan serta tidak mudah dipecah belah oleh propaganda yang dapat mengganggu proses berbenah bangsa.
“Waspada bukan berarti takut. Waspada adalah bentuk kecintaan,” demikian inti pesan yang disampaikan penulis dalam tulisannya.
(Aktivis Mantan Pendiri Forum BEM DIY)
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
