PDIP Akui Pernah Antikritik Saat Bersama Jokowi, Kini Minta Kritik Diterima Terbuka
WARTAMATARAM.COM – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengakui partainya sempat tidak cukup terbuka terhadap kritik saat berada dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, khususnya pada periode kedua.
Hasto mengatakan, kritik sejatinya merupakan bagian sehat dari demokrasi. Menurut dia, banyak masukan yang dulu sempat diabaikan justru terbukti benar.
“Tadi di dalam pembukaan saya juga menyampaikan bahwa kritik itu sehat bagi demokrasi. Sebenarnya PDI Perjuangan juga ingin berbagi, ketika kami berada di dalam pemerintahan khususnya pada periode kedua Presiden Jokowi, muncul banyak kritik,” ujar Hasto di Sekolah Partai DPP PDIP, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Ia menuturkan, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi PDIP agar partai yang berada di pemerintahan tidak bersikap tertutup terhadap suara publik.
“Dan kemudian ternyata banyak kritik-kritik yang diberikan itu adalah suatu kebenaran, sehingga kami tidak ingin partai yang berada di dalam pemerintah mengalami pengalaman seperti PDI Perjuangan saat itu,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Hasto juga menyinggung kebiasaan melaporkan kritik ke polisi. Ia menilai praktik tersebut tidak sejalan dengan semangat demokrasi dan justru melemahkan dialektika dalam bernegara.
“Sekarang ini kritik masalah pangan diadukan ke polisi. Kritik masalah terhadap pemerintah diadukan kepada polisi, padahal Republik ini dibangun dengan suatu dialektika,” tegasnya.
Hasto menambahkan, kritik yang disampaikan PDIP maupun masyarakat bukan untuk menjatuhkan pemerintah, melainkan sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsa.
“Justru ketika kita kritik pemerintah karena kita sayang, cinta tanah air kepada Republik ini,” ujarnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Menurutnya, semangat Konferensi Asia Afrika bisa menjadi teladan bahwa perbedaan ide tetap dapat berjalan dalam bingkai cinta tanah air dan kemajuan bangsa.
“Sumber keteladanan bahwa perbedaan-perbedaan ide dan pemikiran selama digerakkan oleh semangat rasa cinta tanah air untuk kemajuan bangsa itu bukan hal yang diharamkan, tetapi itu penting dalam hal demokrasi,” pungkas Hasto.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
