SPPG Diduga Abaikan Standar Pendistribusian MBG, Ahli Gizi Dinilai Mati Suri

16 Mar 2026 • 12:56 VIP

Warta Mataram – Lombok Tengah – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh SPPG menuai sorotan di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pengengat, Desa Pengengat, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Diduga, kualitas makanan yang disalurkan tidak sesuai dengan tujuan awal dari program yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo.

Para orang tua di lokasi tersebut mengungkapkan bahwa SPPG hanya menyuplai satu kaleng Roti Nissin Wafer Coklat untuk distribusi selama lima hari. Hal ini tentu menimbulkan keprihatinan mengingat rencana program yang seharusnya memberikan makanan bergizi mencakup variasi dan nilai gizi yang memadai.

“Itu untuk jatah anak TK sampai anak kelas tiga SD, tidak ada buah dan yang lainnya selain itu, kami sempat bertanya di mana fungsi ahli gizinya, kok bisa seperti ini, apa ahli gizinya mati suri?” ungkap sejumlah orang tua wali murid saat diwawancarai oleh tim media pada 16 Maret 2026.

Menariknya, dalam pedoman pelaksanaan MBG yang tertuang dalam Juknis 2026, terdapat ketentuan yang tegas mengenai pemenuhan standar gizi. Makanan yang disalurkan harus memenuhi norma tertentu, antara lain energi minimal 300-400 kkal, protein sekurangnya 10 gram, serta komposisi yang seimbang antara karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan. Tidak hanya itu, bahan makanan pun harus segar, higienis, serta rendah akan gula, garam, dan lemak jenuh.

Namun, berdasarkan pengamatan dan laporan dari pihak terkait, tampaknya SPPG masih jauh dari standar yang ditetapkan dalam aturan tersebut. Sebuah kondisi yang tentunya perlu menjadi perhatian lebih dari semua pihak agar tujuan program MBG dapat tercapai dengan baik, terutama dalam menjamin kesehatan dan kecukupan gizi anak-anak di wilayah tersebut.

VIP
Jurnalis Independen