Akademisi Soroti Hasil Diplomasi Energi Bahlil ke Rusia

19 Apr 2026 • 06:11 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Kesepakatan yang dicapai melalui pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, terkait suplai minyak mentah, LPG, serta pengembangan fasilitas penyimpanan menuai beragam tanggapan.

Peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ridho Hantoro, menilai tambahan pasokan dari Rusia merupakan langkah taktis yang masuk akal dalam upaya diversifikasi energi nasional. Menurut dia, kebijakan ini dapat memperluas opsi pasokan sekaligus mengurangi risiko ketergantungan impor dari satu wilayah.

“Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor,” kata Ridho, Sabtu, 18 April 2026.

Ridho juga menilai positif rencana pembangunan fasilitas penyimpanan atau storage yang menjadi bagian dari kerja sama tersebut. Ia menyebut langkah itu lebih strategis karena memperkuat ketahanan sistem energi secara menyeluruh.

“Pembangunan storage adalah langkah strategis yang lebih fundamental, karena memperkuat ketahanan sistem, bukan hanya menambah volume pembelian sesaat,” ujarnya.

Meski begitu, Ridho mengingatkan agar keberhasilan kebijakan ini tidak hanya dilihat dari sisi diplomasi. Menurut dia, ukuran keberhasilan harus didasarkan pada hasil konkret, mulai dari harga pasokan, kesesuaian crude dengan kilang, manfaat LPG terhadap impor, hingga lokasi storage yang tepat untuk kebutuhan logistik dan kondisi darurat.

“Keberhasilan kebijakan ini nanti tidak diukur dari headline diplomatiknya, tetapi dari hal-hal yang sangat konkret, apakah harga pasokan lebih kompetitif, apakah crude-nya cocok untuk kilang, apakah LPG benar-benar mengurangi tekanan impor, apakah storage berada di lokasi logistik yang tepat, dan apakah stok itu benar-benar bisa diakses cepat saat krisis,” tegasnya.

Senada, dosen dan peneliti kebijakan publik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahmad Nizar Hilmi, juga mengapresiasi kerja sama tersebut. Ia menilai kesepakatan pasokan energi dengan Rusia perlu dipahami bukan hanya sebagai solusi teknis menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang memengaruhi pilihan kebijakan dalam negeri.

“Dalam perspektif kebijakan, kerja sama pasokan energi dengan Rusia perlu dibaca bukan sekadar solusi teknokratis untuk menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang membentuk pilihan kebijakan domestik,” ujarnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya