Arab Saudi Tolak Jet Tempur AS untuk Operasi Pengawalan di Selat Hormuz

09 May 2026 • 10:01 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Arab Saudi menolak memberikan izin kepada militer Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan udara maupun wilayah udaranya dalam mendukung Project Freedom, operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz yang diinisiasi Presiden Donald Trump.

Penolakan Riyadh disebut dipicu kekhawatiran bahwa langkah militer AS justru dapat memancing serangan balasan Iran terhadap infrastruktur di negara-negara Teluk dan memperluas konflik bersenjata di kawasan.

Sejumlah pejabat Arab Saudi dilaporkan tidak senang dengan pengumuman mendadak Trump terkait operasi itu. Sebagai bentuk penolakan sekaligus langkah proteksi, Riyadh menyampaikan kepada Washington bahwa jet tempur maupun pesawat pendukung AS tidak diizinkan lepas landas dari Pangkalan Udara Prince Sultan, tenggara Riyadh.

“Cara Project Freedom dieksekusi sangat berisiko dan bisa memicu eskalasi. Negara-negara Teluk bisa menderita karena serangan besar,” ujar seorang pejabat Timur Tengah seperti dikutip NBC News.

Tak lama setelah operasi diumumkan melalui media sosial, Trump akhirnya menghentikan sementara misi tersebut. Kuwait juga mengambil langkah serupa dengan mencabut hak penggunaan pangkalan dan wilayah udaranya bagi AS hingga kebijakan itu dibatalkan.

Situasi di Selat Hormuz kini dilaporkan sangat genting. Berdasarkan data S&P dan Bloomberg, tidak ada lalu lintas kapal yang terpantau selama tiga hari berturut-turut di jalur strategis itu.

Padahal, sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia bergantung pada selat tersebut. Iran kini disebut memblokade akses selat, sementara kapal-kapal komersial berada dalam ketidakpastian meski gencatan senjata telah dideklarasikan pada 8 April lalu.

Berbeda dengan negara tetangganya, Arab Saudi memiliki posisi tawar lebih kuat untuk menolak permintaan AS. Riyadh memiliki pipa minyak East-West sepanjang 750 mil yang membentang dari Teluk Persia ke Laut Merah.

Jalur pipa itu memungkinkan Arab Saudi mengekspor jutaan galon minyak setiap hari tanpa harus melewati Selat Hormuz yang berisiko. Kondisi ini memberi keuntungan taktis bagi Riyadh jika selat tersebut tetap ditutup atau terlalu berbahaya untuk dilintasi.

Hingga kini, Gedung Putih belum memastikan kapan atau apakah Project Freedom akan dilanjutkan. Fokus utama Amerika Serikat saat ini disebut bergeser ke meja perundingan, disertai tekanan kepada Iran agar meneken kesepakatan.

Namun, tekanan tersebut tampaknya belum cukup meyakinkan sekutu-sekutu dekat Washington di Teluk. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi baru saja bertemu dengan pemimpin Iran dan mendesak agar perang segera dihentikan.

Sumber: Tribunnews

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya