Anies Kritik Wacana Penutupan Prodi yang Dinilai Tak Relevan dengan Industri

26 Apr 2026 • 12:44 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menanggapi wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kebijakan yang terlihat efisien dalam jangka pendek justru berpotensi menggeser arah pembangunan bangsa dalam jangka panjang jika tidak dipertimbangkan secara hati-hati.

“Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini,” kata Anies melalui akun X miliknya, dikutip Minggu, 26 April 2026.

Anies menjelaskan, ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik dan seolah berada di menara gading. Padahal, menurut dia, justru dari sanalah banyak inovasi penting lahir dan berkembang.

Ia menyebut sejumlah teori dan rumus yang dulu dianggap tidak aplikatif kini menjadi fondasi berbagai teknologi modern. Internet, kecerdasan buatan, dan kemajuan di bidang kesehatan, kata Anies, tidak lepas dari peran para ilmuwan yang meneliti tanpa kepastian manfaat langsung.

“Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja,” ujarnya.

Anies mengingatkan bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam waktu singkat. Sesuatu yang hari ini dianggap tidak terkait industri, menurut dia, bisa saja menjadi fondasi utama di masa depan.

Ia juga menilai negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai tanpa melahirkan pemikir dasar berisiko menjadi sekadar pengguna teknologi. “Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia,” tegasnya.

Lebih jauh, Anies mencontohkan bahwa kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Ia menyebut epidemiologi berbasis matematika dan biologi dasar berperan besar saat pandemi, sementara ilmu lingkungan, ekologi, dan geofisika penting dalam menghadapi bencana serta perubahan iklim. Ia juga menyinggung peran ekonomi teoretis dalam penyusunan kebijakan fiskal.

“Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap tidak praktis,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Menurut Anies, menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman tersebut, keputusan publik berisiko menjadi dangkal.

Ia menegaskan, keterhubungan perguruan tinggi dengan industri memang penting. Namun, respons terhadap tuntutan zaman tidak harus dilakukan dengan menutup ilmu murni. “Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan,” ujarnya.

Anies pun menyimpulkan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar mencetak pekerja bagi industri, melainkan menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Menurut dia, masa depan tidak dibangun hanya dari hal-hal yang tampak berguna hari ini.

“Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok,” tuturnya.

“Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya,” pungkas Anies.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya