Gencatan Senjata Israel-Lebanon Terancam Runtuh Usai Serangan ke Lebanon Selatan
WARTAMATARAM.COM – Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon kembali berada di ujung tanduk setelah militer Israel dilaporkan melancarkan serangan ke Lebanon Selatan, meski kesepakatan penghentian tembak-menembak telah berlaku sejak Jumat (17/4/2026).
Media Lebanon melaporkan sejumlah serangan terjadi di area permukiman dan terhadap kendaraan di wilayah selatan Lebanon. Serangan itu dinilai sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak.
Wakil kepala dewan politik Hizbullah, Mahmoud Komati, menegaskan kelompoknya tidak akan tinggal diam jika pelanggaran itu terus dibiarkan. Ia menyebut Hizbullah tak akan kembali pada kondisi sebelumnya dan tidak akan lagi menoleransi serangan Israel.
“Kami tidak akan membatasi diri dengan gencatan senjata dan kami tidak akan kembali ke apa yang biasa kami tanggung, berapa pun ongkosnya, dan tidak akan lagi menoleransinya,” kata Komati dalam konferensi pers, dikutip dari Sputnik, Minggu (19/4/2026).
Komati juga mengatakan pimpinan Hizbullah, Naim Qassem, telah menerima informasi terkait rencana lanjutan yang akan diumumkan ke publik. Ia menambahkan, jika pemerintah Lebanon melanjutkan negosiasi langsung dengan Israel, Hizbullah tidak akan mengakuinya dan memilih berjalan dengan kebijakan sendiri.
Menurut Komati, perundingan dengan Israel justru merugikan kepentingan Lebanon.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyoroti pelanggaran gencatan senjata tersebut. Melalui akun Truth Social, Trump menyebut Israel tidak akan lagi mengebom Lebanon karena dilarang oleh Amerika Serikat.
“Israel tidak akan lagi mengebom Lebanon. Mereka dilarang melakukannya oleh AS. Cukup sudah!” tulis Trump, Jumat (17/4/2026).
Trump sebelumnya mengumumkan gencatan senjata Israel-Lebanon selama 10 hari pada Kamis waktu Washington DC, usai berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, Netanyahu kemudian menyatakan pasukannya tetap mengendalikan zona penyangga sedalam 10 kilometer dari garis perbatasan dan tidak akan memenuhi tuntutan apa pun dari Hizbullah.
Dalam serangan yang berlangsung selama 45 hari, lebih dari 2.200 orang dilaporkan tewas dan 7.185 lainnya luka-luka. Selain itu, lebih dari 1 juta warga juga terpaksa mengungsi.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
