Pengamat Nilai Polemik JK dan Jokowi Beri Tekanan Politik ke PSI
WARTAMATARAM.COM – Fenomena yang disebut sebagai “JK Effect” dinilai dapat menjadi ujian serius bagi masa depan politik trah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), termasuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Hal itu disampaikan pengamat politik sekaligus Guru Besar London School of Public Relations (LSPR), Lely Ariani, dalam diskusi Obor Rakyat Reborn bertajuk JK Effect dan Nasib Trah Jokowi 2029 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 16 Mei 2026.
Menurut Lely, polemik yang muncul setelah pernyataan Wakil Presiden ke-10 Jusuf Kalla (JK) soal isu ijazah Jokowi justru memperluas tekanan politik terhadap lingkar kekuasaan Jokowi.
“Peristiwa dengan Pak JK ini adalah batu ujian yang menurut saya justru lebih luas daripada sekadar anekdot-anekdot politik picisan yang dibangun selama ini tentang keberadaan Pak Jokowi,” ujar Lely.
Lely juga menilai PSI akan semakin sulit bangkit menuju Pemilu 2029. Ia menyebut branding PSI sebagai “partainya Jokowi” pada Pemilu 2024 tidak berhasil mendongkrak suara partai tersebut.
“Ketika PSI mengklaim diri sebagai partai Jokowi, ternyata tidak menang. Artinya, tidak ada branding nama Pak Jokowi di sana yang bisa dilihat oleh pemilih,” jelasnya.
Ia turut menyoroti keberadaan relawan dan elite politik di sekitar Jokowi yang dinilai berpotensi menggerogoti wibawa mantan presiden tersebut melalui manuver politik mereka.
“Kelakuan-kelakuan politiknya inilah yang bisa membuat Pak Jokowi itu bersinar atau tenggelam,” tuturnya.
Sementara itu, mantan Wakil Ketua Umum Pro Jokowi (Projo), Budianto Tarigan, menilai Jokowi dan PSI akan babak belur jika memainkan isu SARA dalam polemik dengan Jusuf Kalla.
Budianto menyebut hubungan Jokowi dan JK memanas setelah JK meminta agar ijazah Jokowi diperlihatkan kepada publik.
“Begitu Pak JK mengatakan ‘tunjukkan saja ijazahnya kalau ada,’ ya udah berentet semua nih pelaporan-pelaporan ini dan pemotongan-pemotongan video pidato Pak JK,” ujarnya.
Ia menegaskan, langkah itu merupakan tindakan yang keliru. Menurut dia, isu agama tidak seharusnya dijadikan alat dalam kepentingan politik.
“Jadi kesimpulan saya, hari ini PSI kedodoran, Pak Jokowi juga babak belur. Ketiga, jangan coba-coba memainkan isu agama dalam kepentingan politik,” tambahnya.
Budianto juga berharap Jokowi bisa menunjukkan ijazahnya secara langsung untuk mengakhiri perdebatan soal keabsahan ijazah tersebut, terlebih karena Jokowi dan JK pernah memiliki hubungan dekat saat sama-sama memimpin pemerintahan.
Sementara itu, mantan penasihat spiritual Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Sri Eko Sriyanto Galgendu, mengungkapkan pandangannya terkait isu ijazah palsu. Ia menilai Jokowi merupakan pihak yang berada di pusat persoalan itu.
“Kalau kemudian kita bicara masalah ijazah palsu Pak Jokowi, maka saya selalu memberikan suatu pemahaman siapa yang sebenarnya menjadi dalang suatu permasalahan,” kata Eko dalam forum diskusi tersebut.
Ia kemudian mengibaratkan persoalan itu dengan legenda Joko Tingkir dan sayembara menaklukkan banteng. Menurutnya, ada satu kesimpulan yang perlu terus diingat dalam setiap pembahasan soal ijazah Jokowi.
“Dalang dari permasalahan ijazah palsu adalah Jokowi sendiri,” tegasnya.
Ia mengulangi pernyataan itu sebagai penegasan atas pandangannya dalam diskusi tersebut.
Sumber: RMOL
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
