RI Kantongi Pasokan Minyak Mentah dari Rusia, Kerja Sama LPG Masih Dijajaki

17 Apr 2026 • 08:42 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Rusia menyatakan kesiapan memasok minyak mentah ke Indonesia, sementara kerja sama untuk pasokan LPG masih dalam tahap penjajakan intensif.

Kabar tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.

Menurut Bahlil, kesepakatan pembelian minyak mentah dari Rusia merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Vladimir Putin pada Senin, 13 April 2026.

“Kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan, bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia, dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting, dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” kata Bahlil.

Bahlil menjelaskan, kerja sama ini tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan dirancang sebagai kemitraan strategis berkelanjutan di sektor energi.

Ia memaparkan, kebutuhan bahan bakar minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, kapasitas produksi domestik atau lifting masih berada di kisaran 600.000 hingga 610.000 barel per hari, sehingga Indonesia masih bergantung pada impor dalam jumlah besar.

“Kita masih impor kurang lebih sekitar 1 juta barel per day. Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya di satu negara, tapi di hampir semua negara,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam jangka pendek, pemerintah memastikan ketersediaan minyak mentah hingga akhir 2026 dalam kondisi aman. Kebijakan ini disebut sebagai tindak lanjut arahan Presiden untuk mengantisipasi gejolak energi di tengah dinamika geopolitik global.

“Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, insyaallah sudah aman. Jadi kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita,” kata Bahlil.

Selain minyak mentah, pemerintah juga membuka peluang kerja sama lanjutan untuk pemenuhan kebutuhan LPG nasional. Saat ini, kebutuhan LPG Indonesia masih bergantung pada impor sekitar 7 juta ton per tahun.

Meski begitu, Bahlil mengakui negosiasi untuk LPG masih memerlukan tahapan lanjutan sebelum mencapai kesepakatan final.

“Sekarang kita lakukan diversifikasi, dan insyaallah kita juga akan mendapat support. Tetapi yang ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap,” tambahnya.

Bahlil menegaskan pemerintah akan tetap mengutamakan kepentingan nasional dalam menentukan sumber pasokan energi, termasuk dalam kerja sama dengan berbagai negara.

“Saya katakan bahwa kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel. Jadi semuanya kita ambil, mana yang menguntungkan untuk negara kita, harus kita lakukan,” pungkasnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya