Menkeu Purbaya: Pelemahan Rupiah Tak Sejalan dengan Fundamental Ekonomi

29 May 2026 • 11:10 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat melemah ke level Rp17.858 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurut dia, perekonomian domestik masih cukup kuat sehingga tekanan terhadap rupiah dinilai tidak wajar.

"Ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi," kata Purbaya di Jakarta, dikutip Kamis (28/5/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah bersama sejumlah pihak melakukan langkah di pasar surat berharga negara (SBN) agar imbal hasil atau yield obligasi tetap terkendali. Menurut dia, stabilitas pasar obligasi penting untuk menjaga kepercayaan investor.

"Walaupun rupiah melemah, bond yield-nya turun karena aksi dari pemerintah dan teman-teman kita untuk sedikit membeli supaya yield-nya agak terkendali," ujarnya.

Ia juga menyebut pemerintah mulai melihat adanya aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Karena itu, Purbaya menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi nasional.

"Kita sudah mulai melihat ada yang masuk modal asing ke pasar publikasi kita. Ini terjadi karena fundamentalnya sebetulnya enggak masuk akal," kata mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut.

Sementara itu, ekonom Yanuar Rizky menilai intervensi di pasar obligasi justru bisa memberi tekanan tambahan terhadap rupiah apabila ketergantungan terhadap dana asing masih tinggi. "Kalau intervensi SBN agar yield bertahan di saat global yield koreksi, teori likuiditas justru mengatakan rupiah bisa melemah," kata Yanuar.

Ia menjelaskan, Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap aliran dana asing sehingga pergerakan investor global sangat memengaruhi nilai tukar rupiah.

"Kalau mau melawan bandar tapi kalah terus, akhirnya yang tadinya menahan diri ikut bandar juga. Itu menambah berat tekanan terhadap rupiah," ucapnya.

Yanuar juga mengingatkan pejabat publik agar berhati-hati dalam menyampaikan komentar terkait pasar keuangan karena dapat memengaruhi persepsi pelaku pasar. "Saya heran pejabat pemerintah malah seperti influencer trading," tuturnya.

Tekanan terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga AS dan sentimen global terhadap pasar negara berkembang. Selain rupiah, IHSG juga ikut tertekan sejak awal tahun setelah sempat mencatat rekor tertinggi dari 9.000 ke 6.000.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya