Indonesia Diminta Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026
WARTAMATARAM.COM – Dewan Pakar Kesatuan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Salim, menilai perang laut Iran 2026 memberikan sejumlah pelajaran strategis bagi Indonesia, terutama dalam memahami peperangan modern yang tidak hanya bergantung pada kekuatan militer.
Salim mengatakan, strategi Iran dapat dibaca melalui pandangan Sun Tzu dalam The Art of War, yakni kemampuan menaklukkan lawan tanpa pertempuran langsung. Menurut dia, laut kini tidak lagi dipandang semata sebagai medan tempur statis, melainkan ruang dinamis yang dipengaruhi disrupsi kognitif dan ekonomi.
“Iran mempraktikkan seni menaklukkan musuh tanpa bertempur secara langsung melalui disrupsi kognitif dan ekonomi. Di sini, laut dipandang bukan sebagai medan pertempuran statis, melainkan sebagai ruang aliran yang dinamis,” kata Salim dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Sabtu malam, 18 April 2026.
Ia menjelaskan, teori Sea Denial atau penolakan laut yang diterapkan Iran merupakan bentuk modern dari filosofi Small Navies, yang menekankan pencegahan dominasi lawan melalui strategi asimetris. Menurutnya, pendekatan itu menunjukkan bahwa asimetri bisa menjadi jawaban atas hegemoni global.
Salim juga menyebut strategi Iran didukung oleh teori Antisipasi Strategis, yang menekankan kemenangan dimulai dari cara berpikir. Iran, kata dia, menggabungkan teori attrisi atau pengausan dengan filosofi perlawanan Ashura, yakni keyakinan bahwa pengorbanan dan keteguhan moral dapat melemahkan kekuatan material yang lebih besar.
Kandidat doktor Universitas Airlangga itu menuturkan, secara teoritis strategi Iran sejalan dengan Doktrin Gerasimov tentang perang hibrida, di mana serangan siber, tekanan ekonomi, dan operasi psikologis memiliki peran setara dengan peluncuran rudal.
“Mereka juga memahami filsafat The Center of Gravity dari Clausewitz, bukan lagi pada pusat komando militer musuh, melainkan pada opini publik dan kestabilan pasar global,” ujarnya.
Bagi Indonesia, lanjut Salim, perang laut Iran memberi pelajaran tentang pentingnya kecerdasan strategis dalam menjaga kedaulatan maritim. Ia menyebut konsep “Catur Laksamana” sebagai kemampuan membaca ancaman dari berbagai arah secara bersamaan.
Menurut dia, teori Green Water Navy yang dipadukan dengan pertahanan pantai berlapis menunjukkan bahwa kedaulatan maritim tidak selalu harus bertumpu pada kapal induk besar, melainkan pada integrasi teknologi dan pemahaman terhadap geografis.
“Kita diingatkan oleh filsafat Tirta Amarta, bahwa air adalah sumber kehidupan sekaligus senjata mematikan bagi mereka yang tahu cara menghormatinya,” kata Salim.
Ia menambahkan, bangsa Indonesia perlu memiliki kedalaman strategi, bukan hanya kebanggaan atas luas wilayah. Ketahanan nasional, menurut dia, ditentukan oleh kemampuan mengubah tantangan di laut menjadi kekuatan untuk memperkuat posisi bangsa di level global.
Salim menilai dunia telah menyaksikan lahirnya doktrin pertahanan yang mengguncang pakem militer konvensional dalam perang laut Iran 2026. Teheran, katanya, mengusung filosofi bahwa jika tidak bisa menang dengan cepat, maka lawan tidak boleh menang sama sekali.
“Semboyan ini bukan sekadar retorika, melainkan nyawa dari strategi Attrition War yang dirancang untuk menjebak kekuatan besar dalam konflik yang panjang, mahal, dan melelahkan secara mental,” ujarnya.
Ia menegaskan, sebagai negara kepulauan di persimpangan kepentingan global, Indonesia perlu memaknai ketahanan nasional sebagai kemampuan untuk tidak mudah ditaklukkan. “Kita harus mampu menciptakan kondisi di mana setiap jengkal perairan Nusantara menjadi labirin yang mematikan bagi siapa pun yang mencoba mengganggu kedaulatan kita,” pungkasnya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
