Menkes dan Gubernur Tinjau Progres RSUD Kota Bima sebagai Pusat Rujukan

28 Feb 2026 • 09:27 iMedia

Warta Mataram – Pada Jumat, 27 Februari 2026, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Lalu Muhamad Iqbal, melakukan kunjungan kerja untuk meninjau perkembangan dalam pembangunan dan kesiapan layanan di RSUD Kota Bima. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa pembangunan fisik, penyediaan alat kesehatan, serta pemenuhan tenaga medis sudah sesuai dengan standar dan target perbaikan kelas rumah sakit.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk mempercepat penguatan RSUD Kota Bima menjadi pusat rujukan di wilayah timur NTB. Kebijakan ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan akses dan kualitas layanan rujukan di Pulau Sumbawa, termasuk peningkatan kelas RSUD Kota Bima menjadi Tipe C dan RSUD H.L. Manambai Abdul Kadir menjadi Tipe B, sesuai dengan ketentuan dalam Permenkes Nomor 3 Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.

Menteri Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa kunjungannya bertujuan untuk memastikan bahwa laporan mengenai pelaksanaan pembangunan RSUD Kota Bima sesuai dengan kenyataan di lapangan. Ia menekankan pentingnya verifikasi lapangan untuk menjamin bahwa rumah sakit ini berfungsi secara optimal. Dengan penguatan sarana dan prasarana, serta peningkatan kapasitas tenaga medis, diharapkan masyarakat di Pulau Sumbawa, terutama di wilayah Dompu dan Bima, tidak perlu lagi dirujuk ke Mataram untuk mendapatkan layanan medis spesialistik.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, juga memberikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan berkelanjutan dalam memperkuat layanan RSUD Kota Bima. Dukungan ini sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi NTB untuk meningkatkan kapasitas rumah sakit di Pulau Sumbawa, termasuk penguatan RSUD H.L. Manambai Abdul Kadir yang merupakan bagian dari sistem rujukan regional yang lebih efektif dan merata.

Dari Janji Politik Menuju Kebijakan Nyata

Saat masa kampanye, pasangan Iqbal-Dinda berkomitmen untuk menghadirkan keadilan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima. Komitmen ini kini terwujud dalam kebijakan konkret untuk memperkuat rumah sakit rujukan di Pulau Sumbawa agar masyarakat tidak lagi sepenuhnya menggantungkan diri pada layanan di Mataram.

Sejak lama, banyak kasus seperti intervensi jantung, kemoterapi kanker, hemodialisis, dan pemeriksaan patologi anatomi yang harus dirujuk ke Lombok. Hal ini menyebabkan antrean panjang, biaya tambahan, serta risiko keterlambatan dalam penanganan medis. Oleh karena itu, penguatan RSUD Kota Bima dianggap sebagai langkah penting untuk mengatasi ketimpangan layanan kesehatan regional.

Tantangan Kesehatan di NTB

Nusa Tenggara Barat menghadapi beban penyakit yang cukup berat. Penyebab utama kematian prematur di daerah ini meliputi kanker, stroke, dan tuberkulosis, sementara penyakit tidak menular dan stunting juga berkontribusi terhadap disabilitas. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 5,66 juta jiwa, beban penyakit di NTB tergolong signifikan. Data kesehatan provinsi menunjukkan bahwa:

  • Kanker menyumbang antara 83 hingga 192 ribu DALY per tahun.
  • Stroke menyumbang 80 hingga 118 ribu DALY.
  • Tuberkulosis mencapai 72 hingga 140 ribu DALY.
  • Stunting melibatkan sekitar 131 ribu DALY.
  • Penyakit jantung berkontribusi 40 hingga 69 ribu DALY.

Kerugian ekonomi akibat masalah kesehatan di NTB diperkirakan mencapai Rp18 hingga 25 triliun per tahun, menandakan bahwa kesehatan merupakan isu yang tidak hanya sosial tetapi juga ekonomi dan produktivitas daerah. Ketimpangan distribusi layanan antara Lombok dan Sumbawa juga memperburuk kondisi ini. Dalam banyak kasus, layanan spesialistik seperti Cathlab, kemoterapi kanker, dan hemodialisis masih terpusat di Mataram, memaksa pasien dari Sumbawa untuk melakukan perjalanan jauh dalam kondisi sakit.

Rencana Peningkatan RSUD Kota Bima

Dari segi kapasitas, sebelum peningkatan, RSUD Kota Bima hanya memiliki 98 tempat tidur untuk melayani sekitar 166.992 jiwa di Kota Bima serta rujukan regional dengan 7 poliklinik, ICU dan NICU yang terbatas, serta SDM spesialis dasar. Setelah penguatan, kapasitas ditargetkan meningkat menjadi sekitar 230 tempat tidur dengan lebih banyak poliklinik, ICU, NICU, dan berbagai fasilitas diagnostik dan medik lainnya.

Untuk mendukung peningkatan kelas rumah sakit, pemerintah juga akan melengkapi SDM dengan spesialis yang sesuai dan alat kesehatan modern. Pendekatan ini diharapkan menjadikan peningkatan ini tidak hanya administratif tetapi juga nyata dalam kesiapan klinis.

Strategi dan Target Kebijakan

Setelah peningkatan, pemerintah menetapkan target rasio tempat tidur, waktu tunggu pasien, dan efisiensi biaya kesehatan yang lebih baik. Dengan penguatan RSUD Kota Bima dan peningkatan RSUD H.L. Manambai Abdul Kadir, Pulau Sumbawa diharapkan memiliki sistem rujukan regional yang lebih mandiri dan efisien.

Signifikansi Bagi Pulau Sumbawa

Penguatan RSUD Kota Bima sebagai pusat rujukan wilayah timur NTB menandakan bahwa layanan kesehatan harus tersebar merata, tidak hanya terfokus di satu pulau. Dengan upaya ini, diharapkan masyarakat Pulau Sumbawa dapat menikmati akses layanan kesehatan yang lebih baik dan adil.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya