Negeri di Ujung Napas

20 May 2026 • 09:22 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Sebuah pernyataan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal kondisi fiskal Indonesia memunculkan kesan bahwa ruang keuangan negara sedang berada dalam fase bertahan hidup. Istilah itu terasa kontras dengan penilaian lembaga internasional yang menyebut kondisi Indonesia masih stabil.

Di titik ini, muncul pertanyaan besar: apakah negeri ini benar-benar dalam keadaan aman, atau justru sedang menghadapi tekanan yang selama ini tidak terlihat di permukaan?

Survival mode bukan berarti menunggu kehancuran, tetapi juga bukan kondisi yang nyaman. Dalam situasi seperti ini, kesalahan kecil bisa berdampak besar. Pemborosan, kebocoran anggaran, dan inefisiensi tidak lagi bisa dianggap sepele karena menyangkut daya tahan negara.

Masalah yang kerap muncul adalah kebiasaan menutup lubang lama dengan membuka lubang baru. Utang lama ditutup dengan utang baru, sementara pembenahan mendasar sering tertunda. Di saat yang sama, kebocoran dalam tata kelola anggaran terus menjadi ancaman yang menggerogoti kemampuan negara untuk bergerak lebih sehat.

Situasi tersebut menjadi semakin ironis ketika dibandingkan dengan negara-negara yang hidup di bawah tekanan berat selama puluhan tahun. Iran, misalnya, selama hampir setengah abad menghadapi embargo dan isolasi, namun justru melahirkan ketahanan dan inovasi dari keterbatasan.

Dalam tekanan, efisiensi menjadi keharusan. Tidak ada ruang untuk boros, tidak ada kelonggaran untuk salah langkah. Dari situ lahir kemampuan untuk bertahan, bahkan di tengah situasi yang jauh lebih keras.

Bandingannya menjadi terasa tajam ketika melihat Indonesia. Negeri ini tidak berada dalam embargo atau isolasi, bahkan kerap mendapat apresiasi dari luar. Namun, kelonggaran itu sering tidak dibarengi disiplin yang cukup kuat dalam pelaksanaan kebijakan.

Terlalu banyak program yang tampak baik di atas kertas, tetapi bocor saat dijalankan. Terlalu banyak kebijakan yang terdengar meyakinkan di podium, namun melemah ketika masuk ke tahap eksekusi.

Karena itu, sense of crisis semestinya tidak berhenti sebagai slogan. Ia harus diterjemahkan menjadi langkah konkret, termasuk keberanian mengaudit ulang seluruh program dan kebijakan agar benar-benar menyasar kebutuhan yang paling mendesak.

Dalam situasi bertahan hidup, ruang untuk pemborosan, proyek titipan, dan kompromi dengan ketidakjujuran semakin sempit. Bahkan kebocoran kecil bisa berdampak besar bagi jutaan rakyat yang bergantung pada ketepatan pengelolaan negara.

Pujian dari luar pun tidak selalu menjadi jaminan. Sejarah menunjukkan, apresiasi yang terdengar manis bisa berujung pada ketergantungan jika tidak disikapi dengan kewaspadaan. Karena itu, setiap pujian seharusnya dibaca dengan kepala dingin, bukan diterima tanpa kritik.

Indonesia belum berada di titik mati. Namun, negeri ini sedang diuji: apakah mampu sekadar bertahan, atau benar-benar berbenah. Survival hanya fase, dan arah akhirnya bergantung pada keberanian untuk berubah, bukan bertahan dalam ilusi kenyamanan.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya