Penjahit Viral, Pelanggan Kesal
Media sosial kembali diramaikan oleh sebuah video yang memperlihatkan seorang penjahit memarahi konsumennya. Konsumen datang untuk mengambil pakaian sesuai hari yang telah dijanjikan. Namun, pakaian tersebut ternyata belum selesai. Perdebatan kemudian melebar hingga menyentuh isu suku, agama, dan kondisi ekonomi yang tentu tidak pantas dibawa ke dalam persoalan pelayanan pelanggan.
Belakangan, seorang pejabat daerah bahkan turun tangan untuk menyampaikan permohonan maaf atas ucapan yang dinilai telah melukai banyak pihak.
Saya tidak ingin mengulas siapa yang benar dan siapa yang salah. Potongan video tidak selalu mampu menggambarkan keseluruhan peristiwa. Namun, ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting untuk kita renungkan, yaitu tentang arti sebuah janji dalam dunia usaha.
Kebetulan saya juga pernah mengalami pengalaman yang hampir serupa.
Seorang penjahit pernah menjanjikan pakaian saya selesai pada hari dan jam tertentu. Saya datang tepat waktu. Ternyata pakaian saya bahkan belum mulai dikerjakan. Kecewa? Tentu. Saya bukan dewa, apalagi Dewa 19.
Ironisnya, saat tulisan ini dibuat, saya baru saja mengalami kejadian yang hampir sama. Saya mendatangi tempat servis tas dan sepatu untuk mengambil sandal yang sebelumnya dijanjikan selesai hari itu. Setelah sampai di lokasi, kondisi sandal saya masih persis seperti kemarin. Belum diperbaiki sama sekali.
Yang membuat kecewa sebenarnya bukan karena pengerjaannya terlambat. Saya memahami setiap usaha memiliki keterbatasan. Kadang pesanan sedang membludak, pegawai berhalangan hadir, atau ada pekerjaan yang lebih rumit dari perkiraan.
Masalahnya adalah tidak ada komunikasi. Padahal pemilik usaha memiliki nomor WhatsApp saya.
Seandainya sehari sebelumnya ia mengirimkan pesan singkat, “Maaf Pak, pengerjaan sandal Bapak belum bisa selesai hari ini karena masih banyak antrean. Kami mohon tambahan waktu dua hari.”
Saya hampir pasti akan memakluminya. Saya masih memiliki sandal lain yang bisa dipakai. Saya bahkan tidak perlu datang hari itu.
Sayangnya, ketika pelanggan tidak diberi kabar, mereka tetap berangkat. Ada ongkos perjalanan yang dikeluarkan. Ada waktu yang terbuang. Ada pekerjaan lain yang mungkin ditunda. Ada ekspektasi yang sudah dibangun sejak menerima janji tersebut. Semua itu adalah biaya yang seringkali tidak terlihat oleh pelaku usaha.
Dalam dunia pemasaran, pelanggan tidak hanya membeli produk atau jasa. Mereka juga membeli kepastian.
Ketika seorang penjahit berkata, “Silakan diambil hari Jumat,” pelanggan akan mengatur jadwalnya berdasarkan informasi tersebut. Ketika tempat servis mengatakan, “Besok sudah selesai,” pelanggan akan datang dengan keyakinan bahwa barangnya siap dibawa pulang.
Artinya, janji sebenarnya adalah bagian dari produk yang dijual.
Dalam konsep mindful marketing, integritas menjadi fondasi utama hubungan antara pelaku usaha dan pelanggan. Integritas bukan berarti tidak pernah terlambat. Integritas adalah keberanian untuk mengatakan kondisi yang sebenarnya dan segera memberi tahu pelanggan ketika ada perubahan.
Banyak pelaku UMKM justru terjebak pada kebiasaan yang sama. Karena takut pelanggan pergi, semua pesanan dijawab, “Besok jadi.” Padahal mereka sendiri belum benar-benar yakin. Harapan yang dibangun terlalu tinggi akhirnya berubah menjadi kekecewaan yang jauh lebih besar.
Padahal pelanggan seringkali lebih menghargai kejujuran daripada janji yang terlalu optimistis. Lebih baik mengatakan, “Pekerjaan ini baru bisa selesai sepuluh hari lagi,” lalu benar-benar selesai dalam delapan hari. Pelanggan justru akan merasa senang karena hasilnya lebih cepat dari perkiraan. Sebaliknya, ketika berkali-kali mengatakan, “Besok selesai,” tetapi terus mundur tanpa kepastian, kepercayaan pelanggan perlahan akan habis.
Di era digital, komunikasi sebenarnya semakin mudah. Mengirim pesan WhatsApp hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit, bahkan hanya beberapa detik. Namun, satu menit itu bisa menyelamatkan hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Seringkali pelanggan tidak marah karena harus menunggu. Mereka marah karena merasa diabaikan. Mereka tidak diberi kesempatan untuk menyesuaikan rencana. Mereka datang membawa harapan, tetapi pulang membawa kekecewaan.
Banyak pelaku usaha mengira pelanggan pindah karena harga lebih murah atau karena muncul pesaing baru. Padahal, tidak sedikit pelanggan yang pergi hanya karena lelah menghadapi janji yang berulang kali tidak ditepati.
Kepercayaan memang tidak terlihat. Tidak bisa ditimbang, tidak bisa difoto, dan tidak bisa dimasukkan ke dalam laporan keuangan. Namun, kepercayaan adalah aset yang menentukan apakah pelanggan akan kembali atau justru mencari tempat lain.
Produk yang bagus akan membuat pelanggan puas sekali dan janji yang ditepati akan membuat pelanggan kembali berkali-kali. Pelanggan sebenarnya bukan hanya membeli pakaian yang selesai dijahit atau sandal yang selesai diperbaiki. Mereka membeli ketenangan bahwa ketika sebuah usaha berkata, “Selesai hari Jumat,” maka hari Jumat benar-benar berarti hari Jumat. (*)
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
