Mengapa Pelaku UMKM Tetap Mencampur Uang Usaha Meski Sudah Dilatih Pembukuan?

Pembukuan UMKM

Hampir semua pelaku UMKM pernah mendengar nasihat yang sama: pisahkan uang usaha dan uang pribadi. Nasihat ini juga menjadi materi yang hampir selalu muncul dalam pelatihan kewirausahaan, mulai dari yang diselenggarakan pemerintah, kampus, perbankan, hingga berbagai komunitas bisnis. Tujuannya sederhana, agar pelaku usaha lebih mudah mengetahui keuntungan yang sebenarnya, mengelola arus kas, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih baik.

Anehnya, setelah bertahun-tahun pelatihan itu dilakukan, persoalan yang sama masih terus kita temui. Tidak sedikit pelaku UMKM yang tetap menggunakan uang hasil penjualan untuk membayar kebutuhan rumah tangga, membeli kebutuhan sehari-hari, atau menutup pengeluaran mendadak. Buku kas yang sempat rajin diisi pada awal pelatihan perlahan kembali kosong, sementara uang usaha dan uang pribadi kembali bercampur seperti sebelumnya.

Fenomena ini seringkali langsung disimpulkan sebagai kurangnya disiplin atau rendahnya literasi keuangan pelaku UMKM. Padahal, menurut saya, kesimpulan tersebut terlalu sederhana. Jika seseorang sudah berkali-kali diberi pengetahuan yang sama tetapi perilakunya tidak juga berubah, mungkin persoalannya bukan lagi pada apa yang ia ketahui. Bisa jadi, kita belum benar-benar memahami alasan mengapa perilaku itu terus berulang.

Kita terbiasa melihat persoalan ini dari sudut pandang akuntansi, padahal bisa jadi akar masalahnya justru berada pada cara seseorang memandang usahanya sendiri. Sebelum berbicara tentang teknik pembukuan, mungkin kita perlu bertanya lebih dulu, bagaimana sebenarnya pelaku UMKM memaknai bisnis yang mereka jalankan?

Dalam ilmu akuntansi dikenal konsep economic entity, yaitu usaha diperlakukan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya. Konsep ini terdengar sederhana di ruang kelas, tetapi belum tentu sesederhana itu ketika diterapkan dalam kehidupan nyata. Bagi banyak pelaku UMKM, usaha bukanlah sebuah “perusahaan” yang berdiri sendiri. Usaha adalah bagian dari hidup mereka. Tidak sedikit yang secara tidak sadar berpikir, “Usaha ini ya saya.”

Cara pandang seperti itu membuat batas antara uang usaha dan uang pribadi menjadi kabur. Ketika seorang pemilik warung mengambil uang dari laci kas untuk membeli beras atau membayar uang sekolah anak, ia tidak merasa sedang mengambil uang milik perusahaan. Ia merasa sedang menggunakan uang yang memang ia hasilkan sendiri. Dari sudut pandangnya, tindakan tersebut terasa wajar, bahkan logis.

Di sisi lain, banyak pelaku UMKM memang tidak memulai usaha dengan cita-cita membangun perusahaan besar. Mereka membuka usaha karena ingin memperbaiki kehidupan keluarga, memiliki penghasilan sendiri, atau sekadar memastikan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Dalam kondisi seperti itu, bisnis lebih sering dipandang sebagai alat untuk bertahan hidup daripada aset yang sedang dibangun.

Cara pandang ini semakin kuat ketika pendapatan usaha tidak menentu. Hari ini pembeli ramai, besok bisa sepi. Bulan ini untung, bulan depan belum tentu. Ketidakpastian tersebut membuat uang yang ada di kas usaha perlahan berubah fungsi menjadi dana darurat keluarga. Ketika ada kebutuhan mendesak, pilihan paling cepat tentu mengambil uang yang tersedia. Sulit rasanya berharap pemisahan keuangan berjalan disiplin jika realitas ekonomi sehari-hari masih penuh ketidakpastian.

Ada satu hal lagi yang sering luput dari perhatian, yaitu budaya usaha keluarga. Sebagian besar UMKM di Indonesia tumbuh bersama keluarga. Suami, istri, anak, bahkan saudara ikut terlibat dalam menjalankan usaha. Dalam situasi seperti ini, batas antara kepentingan bisnis dan kepentingan keluarga memang tidak selalu jelas. Apa yang menurut teori akuntansi seharusnya dipisahkan, dalam praktik kehidupan justru terasa menyatu.

Karena itu, saya mulai berpikir bahwa pelatihan pembukuan selama ini mungkin terlalu banyak berfokus pada cara mencatat, tetapi belum cukup banyak membahas cara memandang usaha. Kita mengajarkan bagaimana menyusun laporan laba rugi, tetapi jarang mengajak pelaku UMKM mendiskusikan mengapa laporan tersebut penting bagi masa depan bisnisnya. Kita mengajarkan cara memisahkan rekening, tetapi belum banyak membantu mereka membangun kesadaran bahwa usaha yang mereka jalankan adalah aset yang perlu dijaga.

Pendampingan UMKM, menurut saya, perlu berkembang. Pendamping tidak cukup menjadi pengajar yang menjelaskan debit, kredit, atau arus kas. Pendamping juga perlu menjadi fasilitator yang membantu pelaku usaha menemukan kembali tujuan mereka berbisnis. Pertanyaan sederhana seperti, “Mengapa Anda membangun usaha ini?” jauh lebih bermakna daripada langsung membuka lembar kerja pembukuan. Sebab, ketika seseorang mulai melihat usahanya sebagai sesuatu yang ingin diwariskan atau dikembangkan, pembukuan tidak lagi terasa sebagai beban administrasi, melainkan alat untuk menjaga masa depan usaha tersebut.

Pelatihan keuangan juga perlu menyentuh aspek perilaku. Misalnya dengan membantu pelaku UMKM menetapkan gaji bagi dirinya sendiri, membedakan perannya sebagai pemilik usaha dan anggota keluarga, atau membiasakan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan semata-mata berdasarkan kebutuhan sesaat. Langkah-langkah sederhana seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi justru dapat menciptakan perubahan yang lebih bertahan lama dibanding sekadar menambah materi tentang laporan keuangan.

Saya menyebut cara pandang ini sebagai Mindful Business. Intinya sederhana, keputusan bisnis yang baik tidak hanya lahir dari kemampuan teknis, tetapi juga dari kesadaran tentang tujuan, makna, hubungan, dan dampak dari setiap keputusan yang diambil. Ketika pelaku usaha mulai memahami bahwa uang yang tetap berada di kas bukan berarti “tidak boleh dipakai”, melainkan sedang dipersiapkan untuk menjaga keberlangsungan usahanya, cara mereka mengambil keputusan akan berubah dengan sendirinya.

Persoalan pembukuan UMKM mungkin memang bukan semata-mata persoalan “pembukuan”, tapi persoalan cara manusia memaknai usaha, uang, dan masa depannya sendiri. Selama kita hanya berusaha mengubah keterampilan tanpa menyentuh cara berpikir, perubahan yang terjadi seringnya hanya bertahan sementara. Namun, ketika cara pandangnya berubah, perilaku baru akan tumbuh lebih alami. Sebab usaha yang berkembang hampir selalu diawali oleh pemilik yang bertumbuh, dan pembukuan yang baik hanyalah salah satu jejak dari proses pertumbuhan tersebut. (*)

Adi Prayuda
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya