Ekonom: Penurunan Harga BBM Nonsubsidi Butuh Waktu dan Perhitungan Bertahap

WARTAMATARAM.COM – Ekonom Josua Pardede menilai harga BBM nonsubsidi yang sempat naik sebagai dampak gejolak harga minyak dunia tidak bisa langsung turun meski harga minyak mentah global mulai melandai.

Menurut dia, harga BBM di Indonesia tidak ditentukan oleh harga minyak dunia semata. Ada sejumlah komponen lain yang ikut membentuk harga di SPBU, mulai dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, hingga pajak.

“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata,” ujar Josua saat dihubungi, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menjelaskan, seluruh komponen tersebut dihitung menggunakan rata-rata periode tertentu, bukan harga harian. Karena itu, penyesuaian harga BBM biasanya tidak berlangsung cepat.

Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, lanjut Josua, harga lebih banyak ditentukan oleh kebijakan pemerintah dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kemampuan APBN. Saat harga minyak dunia turun, ruang fiskal yang terbuka pun biasanya digunakan terlebih dahulu untuk menekan beban subsidi dan kompensasi yang membengkak.

“Bukan langsung diteruskan sebagai penurunan harga di SPBU. Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian lebih mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap tidak bergerak harian karena memakai formula resmi dan pengawasan pemerintah,” tuturnya.

Josua menegaskan, yang lebih penting bukan sekadar apakah harga BBM harus turun, melainkan sejauh mana pemerintah bisa menjelaskan komponen perhitungan harga kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi.

Berdasarkan perhitungannya, harga keekonomian ideal Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter, atau sekitar Rp250 di atas harga jual yang berlaku saat ini. Dengan harga jual baru Rp16.250, Pertamax masih berada sedikit di bawah harga keekonomian.

Ia menyebut, tingginya harga keekonomian Pertamax dipengaruhi lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel. Kondisi itu juga diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat biaya impor energi meningkat.

Josua menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter merupakan koreksi yang diperlukan untuk mengurangi tekanan keuangan yang selama ini ditanggung Pertamina akibat penahanan harga.

“Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina,” katanya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya