Apa Itu Love Scamming? Kenali Ciri-Ciri dan Modus Penipuannya

14 May 2026 • 10:10 iMedia

WARTAMATARAM.COM – Aparat kepolisian bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan mengungkap jaringan penipuan berkedok asmara atau love scamming yang dikendalikan dari dalam Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kotabumi, Lampung. Pengungkapan kasus ini dilakukan setelah petugas menemukan ratusan telepon seluler di dalam rutan.

Mengutip akun Instagram @humas_poldalampung, sebanyak 137 tahanan diduga terlibat dalam sindikat love scamming yang beroperasi secara terorganisir. Modus yang digunakan para pelaku adalah membuat akun media sosial palsu dengan menyamar sebagai anggota TNI atau Polri, lalu menjalin hubungan asmara dengan korban.

Setelah berhasil membangun kedekatan, pelaku diduga membujuk korban untuk melakukan panggilan video bermuatan tidak senonoh. Rekaman atau tangkapan layar dari percakapan tersebut kemudian digunakan untuk memeras korban.

Para tahanan yang terindikasi terlibat kini telah dipindahkan ke Rutan Kelas IA Bandar Lampung guna mempermudah proses penyidikan.

Apa itu love scamming?

Melansir laman Pusiknas Bareskrim Polri, love scamming atau romance scam adalah penipuan berkedok asmara. Dalam modus ini, pelaku menaklukkan korban dengan kata-kata cinta dan membangun hubungan romansa yang tampak serius.

Pelaku memanipulasi korban untuk mendapatkan uang. Biasanya, prosesnya dimulai dengan pelaku berpura-pura menjadi sosok yang tertarik atau jatuh cinta pada korban, lalu menggunakan berbagai cara untuk menciptakan ikatan emosional.

Beberapa di antaranya dilakukan dengan memberikan perhatian berlebih, pujian, hingga janji-janji romantis. Tidak jarang, pelaku juga memakai foto-foto menarik untuk meyakinkan calon korban.

Selain merugikan secara finansial, love scamming juga berdampak pada kondisi emosional korban. Setelah menyadari telah ditipu, korban kerap merasa terluka, malu, dan kehilangan kepercayaan pada orang lain.

Ciri-ciri love scamming

Ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai untuk mengenali modus ini. Pertama, pendekatan biasanya dilakukan secara online melalui dating apps, media sosial, atau aplikasi pesan.

Kedua, proses pendekatan berlangsung sangat cepat. Penipu sering kali mengungkapkan perasaan cinta atau ketertarikan kuat dalam waktu singkat setelah komunikasi dimulai.

Ketiga, pelaku kerap memakai profil palsu dengan foto-foto menarik. Mereka biasanya mengaku sebagai pengusaha sukses, memiliki status sosial tinggi, atau latar pendidikan yang cemerlang.

Penggunaan identitas palsu ini bertujuan mengelabui korban sekaligus menyulitkan pelacakan jika kasus tersebut dilaporkan kepada aparat penegak hukum.

Masyarakat diminta lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan orang yang baru dikenal di dunia maya, terutama jika hubungan terasa terlalu cepat intens dan disertai permintaan yang mencurigakan.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya