Pemerintah Tingkatkan Akses Listrik di Daerah Terpencil
Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan pemerataan akses listrik di daerah terpencil melalui program Listrik Desa (Lisdes) yang akan berlangsung dari 2025 hingga 2029. Program ini menargetkan lebih dari 5.758 desa di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), dengan sasaran sekitar 1,2 juta rumah tangga yang belum memiliki akses listrik PLN.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyatakan bahwa program ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara bagi masyarakat pelosok. Menurutnya, program Lisdes diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan.
Untuk mengatasi tantangan akses di daerah 3T, program ini akan mengkombinasikan sistem sambungan listrik “on grid” dan “off grid”. Desa yang terletak dekat dengan jaringan PLN akan mendapatkan solusi “on grid”, sementara desa yang jauh dari jaringan akan menggunakan sistem “off grid” yang berbasis panel surya mandiri.
Sebagai bagian dari upaya ini, Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan 55 pembangkit listrik energi terbarukan pada bulan Juni lalu. Pembangkit tersebut, yang terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), tersebar di 15 provinsi dengan total kapasitas 379,7 Megawatt.
Hingga pertengahan 2025, konstruksi proyek PLTS di perdesaan terus berjalan. Saat ini, rasio elektrifikasi nasional telah mencapai sekitar 99,83% pada akhir 2024. Program Lisdes 2025-2029 diharapkan dapat menyelesaikan daerah-daerah yang belum tersentuh listrik.
Image Source: Kementerian ESDM
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
