Kaya Perhatian, tetapi Miskin Keuntungan

vanity metrics: kaya perhatian, tetapi miskin keuntungan
Adi Prayuda, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR (Foto: Dok. Pribadi)

Pernahkah melihat sebuah video promosi yang ditonton jutaan kali, tetapi toko yang menjual produknya tetap sepi? Atau sebuah unggahan yang dipenuhi ribuan like dan komentar, namun beberapa bulan kemudian bisnisnya justru tutup? Fenomena seperti ini semakin sering kita jumpai di era media sosial. Angka-angka di layar terlihat mengesankan, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi bisnis yang sesungguhnya.

Media sosial telah mengubah cara pelaku usaha mengukur keberhasilan. Dahulu, ukuran yang paling sering ditanyakan adalah omzet, laba, atau jumlah pelanggan. Kini, pertanyaannya bergeser menjadi berapa views, berapa reach, berapa engagement, atau berapa banyak pengikut baru yang didapat minggu ini. Pergeseran ini sebenarnya tidak salah. Data digital memang penting untuk memahami perilaku audiens. Masalah muncul ketika perhatian dianggap sama dengan keuntungan.

Tidak sedikit UMKM hingga perusahaan besar berlomba-lomba membuat konten yang viral. Mereka bekerja sama dengan influencer yang memiliki jutaan pengikut, memasang iklan dengan target jangkauan seluas mungkin, bahkan mengikuti setiap tren yang sedang ramai diperbincangkan. Logikanya sederhana: Semakin banyak orang melihat, semakin besar peluang produk terjual.

Sayangnya, dunia nyata tidak selalu bekerja sesederhana itu.

Algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan perhatian. Platform ingin pengguna bertahan lebih lama, sehingga konten yang menghibur, mengundang emosi, atau memicu perdebatan cenderung mendapatkan distribusi yang lebih luas. Namun, pelanggan mengambil keputusan membeli dengan pertimbangan yang berbeda. Mereka mempertimbangkan kebutuhan, manfaat, harga, kepercayaan, hingga pengalaman menggunakan produk.

Artinya, algoritma mengejar perhatian, sedangkan pelanggan mencari alasan untuk membeli.

Perbedaan inilah yang sering luput disadari. Banyak bisnis merasa strategi pemasarannya berhasil hanya karena angka engagement meningkat. Padahal, peningkatan perhatian belum tentu menghasilkan transaksi. Dalam dunia pemasaran, kondisi seperti ini sering disebut sebagai vanity metrics, yaitu metrik yang terlihat mengesankan tetapi belum tentu mencerminkan kinerja bisnis.

Bayangkan sebuah restoran di Mataram yang viral karena desain interiornya unik. Banyak orang datang untuk berfoto, membuat konten, lalu mengunggahnya ke media sosial. Restoran itu mungkin mendapatkan ribuan unggahan dan jutaan tayangan. Namun, jika sebagian besar pengunjung hanya memesan satu minuman untuk berjam-jam demi membuat konten, apakah bisnis tersebut benar-benar memperoleh keuntungan yang cukup untuk membayar karyawan, membeli bahan baku, dan menutup biaya operasional?

Contoh lain dapat kita lihat pada banyak UMKM yang tergoda membeli jasa penambah pengikut atau bekerja sama dengan akun yang memiliki basis massa besar tanpa memperhatikan apakah pengikut tersebut benar-benar sesuai dengan target pasar mereka. Angka pengikut memang bertambah, tetapi penjualan tetap berjalan di tempat. Yang meningkat hanyalah rasa percaya diri ketika melihat dashboard media sosial.

Dari perspektif akuntansi, keberhasilan bisnis tidak diukur dari seberapa ramai sebuah merek diperbincangkan, melainkan dari kemampuan bisnis tersebut menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Laporan laba rugi tidak mengenal istilah viral. Neraca tidak mencatat jumlah likes. Arus kas tidak bertambah hanya karena sebuah video masuk halaman rekomendasi.

Yang membayar gaji karyawan bukanlah komentar di media sosial, melainkan uang yang benar-benar masuk ke rekening perusahaan.

Karena itu, pelaku usaha perlu mulai membedakan antara metrik perhatian dan metrik bisnis. Jumlah tayangan memang penting sebagai indikator bahwa pesan kita sampai kepada audiens. Namun setelah itu, pertanyaan yang lebih penting adalah: Berapa orang yang benar-benar membeli? Berapa yang kembali membeli? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh satu pelanggan? Apakah kampanye yang dilakukan menghasilkan keuntungan yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin tidak sepopuler jumlah views, tetapi justru menentukan keberlangsungan usaha.

Bagi UMKM di Nusa Tenggara Barat yang semakin aktif memanfaatkan media sosial, pemahaman ini menjadi sangat relevan. Digitalisasi membuka peluang pasar yang jauh lebih luas, tetapi juga menghadirkan godaan untuk mengejar angka-angka yang mudah dipamerkan. Tidak sedikit pelaku usaha merasa tertinggal hanya karena melihat kompetitor memiliki puluhan ribu pengikut, padahal bisa jadi pelanggan setia yang mereka miliki jauh lebih berkualitas.

Saya ingin mengingatkan kembali bahwa tujuan pemasaran bukan sekadar membuat orang berhenti menggulir layar, melainkan membuat mereka percaya, mencoba, dan kembali membeli. Perhatian hanyalah awal dari perjalanan pelanggan, bukan garis akhirnya.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara mengevaluasi keberhasilan pemasaran digital. Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak yang melihat?” tetapi lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting, “Berapa banyak nilai yang berhasil kita ciptakan? Berapa banyak yang percaya pada nilai itu, hingga akhirnya membeli produk atau menggunakan jasa kita?”

Sebab, bisnis yang sehat tidak dibangun oleh keramaian semata, tetapi tumbuh ketika perhatian berhasil diubah menjadi kepercayaan, kepercayaan menjadi transaksi, dan transaksi menjadi keuntungan yang mampu menjaga roda usaha tetap berputar. Di dunia digital yang semakin bising, kemampuan membedakan antara mengukur perhatian dan mengukur keuntungan bisa jadi merupakan keunggulan kompetitif yang paling berharga. (*)

Adi Prayuda
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya