Kasur, Digitalisasi, dan Rasa Aman

Digitalisasi UMKM

“Kalau punya uang lebih, simpan saja di bawah kasur.”

Kalimat itu mungkin terdengar asing bagi generasi yang tumbuh bersama internet. Namun, bagi banyak orang tua, nasihat tersebut bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari cara mereka memahami keamanan. Di balik kasur kapuk yang sederhana, tersimpan sebuah cara pandang tentang kekayaan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Menariknya, orang tidak menyimpan uang di bawah kasur karena menganggap kasur sebagai tempat paling aman. Secara logika, kasur justru menyimpan banyak risiko. Uang bisa hilang karena dicuri, rusak akibat kebakaran, atau hanyut saat banjir. Namun, kasur memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki tempat lain: memberikan rasa tenang. Uang berada dekat dengan pemiliknya, dapat dilihat, disentuh, dan dipastikan keberadaannya kapan saja.

Disini saya mulai memahami bahwa rasa aman seringkali lebih menentukan daripada keamanan itu sendiri.

Pemahaman tersebut menjadi semakin menarik ketika kita melihat bagaimana pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, hingga berbagai perguruan tinggi terus mendorong digitalisasi ekonomi. QRIS dipasang di mana-mana, transaksi nontunai semakin mudah, dan pelatihan literasi digital semakin sering diselenggarakan. Harapannya sederhana, semakin banyak masyarakat memahami teknologi, semakin cepat pula mereka beralih ke transaksi digital.

Faktanya tidak selalu demikian.

Tidak sedikit pelaku UMKM yang telah memiliki QRIS, tetapi tetap tampak lebih lega ketika pembeli membayar secara tunai. Mereka mampu menggunakan telepon pintar, mengirim pesan melalui aplikasi, bahkan melakukan transfer. Persoalannya bukan lagi soal mampu atau tidak mampu menggunakan teknologi.

Yang seringkali belum berpindah adalah rasa aman.

Selama bertahun-tahun, bahkan mungkin sejak kecil, banyak orang diajarkan bahwa kekayaan adalah sesuatu yang dapat dilihat dan disentuh. Uang tunai bisa dihitung. Emas bisa dipegang. Tanah bisa dipijak. Ternak bisa dilihat setiap hari. Semua itu membentuk keyakinan bahwa keamanan berasal dari sesuatu yang memiliki wujud.

Digitalisasi mengubah pengalaman tersebut. Kini uang hadir sebagai angka di layar. Pembayaran dilakukan melalui kode QR. Tabungan tidak lagi memenuhi dompet, tetapi tersimpan dalam sistem yang tidak terlihat. Secara ekonomi nilainya tetap sama, tetapi secara psikologis pengalaman itu berbeda.

Tidak heran jika masih ada pertanyaan seperti, “Bagaimana kalau internet mati?”, “Bagaimana kalau rekening dibobol?”, atau “Bagaimana kalau sistemnya bermasalah?” Sebagian orang menganggap pertanyaan itu sebagai tanda kurangnya literasi digital. Padahal, pertanyaan tersebut juga menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap sistem digital masih sedang dibangun.

Karena itu, menurut saya, digitalisasi tidak bisa hanya dipahami sebagai perpindahan dari transaksi tunai menuju transaksi elektronik. Yang sesungguhnya sedang terjadi adalah perpindahan sumber rasa aman. Dulu rasa aman bertumpu pada benda yang dapat digenggam. Kini, rasa aman diminta bertumpu pada sistem yang tidak kasatmata, tetapi harus dapat dipercaya.

Artinya, keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari banyaknya QRIS yang terpasang, jumlah rekening yang dibuka, atau banyaknya pelatihan yang diselenggarakan. Keberhasilan sejatinya terlihat ketika masyarakat benar-benar merasa nyaman menggunakan layanan digital tanpa dihantui rasa khawatir setiap kali bertransaksi.

Di sinilah pekerjaan besar pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, media, hingga pelaku industri. Edukasi memang penting, tetapi membangun kepercayaan jauh lebih penting. Sistem harus semakin aman, perlindungan konsumen harus semakin kuat, dan setiap masalah harus ditangani secara cepat dan transparan. Kepercayaan tidak lahir dari slogan atau sosialisasi, melainkan dari pengalaman yang terus-menerus membuktikan bahwa sistem bekerja sebagaimana mestinya.

Mungkin suatu hari nanti, anak-anak kita akan menganggap cerita tentang menyimpan uang di bawah kasur hanyalah kisah masa lalu. Namun, mereka juga perlu memahami bahwa di balik cerita sederhana itu terdapat pelajaran yang tidak lekang oleh waktu: manusia selalu mencari rasa aman sebelum menerima perubahan.

Sebab pada akhirnya, teknologi tidak pernah benar-benar mengubah manusia. Teknologi hanya akan diterima ketika manusia merasa cukup aman untuk mempercayainya. (*)

Adi Prayuda
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya