AMARAH: Polda Harus Geledah Rumah Kajati NTB, Kuat Dugaan Kami Ia Jaringan Febri
Warta Mataram – Mataram – Kasus yang menimpa Jampidsus Febri terkait dugaan TPPU dengan harta fantastis memunculkan beragam reaksi publik.
Bahkan Aliansi Masyarakat Anti Rasuah ( AMARAH) NTB mengaitkan dengan proses hukum Skandal Pokir Siluman DPRD NTB yang rada aneh dan agak lain.
Rindawan Evendi (Rindhot) mengaku curiga oknum jaksa yang bermain di kasus ini adalah anak anak buah Febri dan mendapat perlindungan dari sang Jampidsus sehingga mereka dengan terang terangan berani memainkan hukum saat ini.
Kita patut curiga karena secara jelas ada 15 orang penyelenggara negara anggota DPRD menerima uang gratifikasi dan suap tetapi oleh jaksa di bebaskan dan hanya di statuskan saksi.
Menurut AMARAH proses hukum seperti ini baru terjadi di indonesia dan meninbulkan kemarahan masyarakat di NTB saat ini.
Salah seorang pentolan AMARAH Agus Sukandi juga menilai ada unsur kesengajan oknum jaksa membuat para penerima uang haram tersebut tidak di jadikan tersangka tentu ada kaitannya dengan uang sogokan yang mengalir ke kantong mereka.
“tidak mungkin kalau tidak ada uang mengalir, harusnya jaksa menangkap pejabat yang menerima uang kok malah anteng saja mereka semua.
padahal lanjut Agus, Kasus ini jika di dalami tidak hanya legislator yang bermain ada Kepala BPKAD kemudian eks tim transisi Gubernur bahkan Gubernur bisa jadi ikut terlibat karena sering di sebut dalam persidangan.
Sayangnya Jaksa tidak menghadirkan Gubernur dan tidak mengembangkan penyidikan ke pihak lain yang harusnya di periksa secara mendalam.
AMARAH juga menduga aliran dana ke oknum tersebut berjumlah sekitar 11 miliar dengan asumsi masing masing orang mengeluarkan 300 juta rupiah.
Wajar publik menjadi ragu karena adanya informasi yang beredar bahkan di salah satu pendopo bupati konon dua orang anggota DPRD pernah menyerahkan uang tersebut yakni SM dan HM dari Fraksi PAN.
Sementara itu Garda NTB Abdul Hakim yang merupakan elemen AMARAH meminta publik tetap mengawal kasus ini hingga vonis mendatang karena dengan perkembangan penegakan hukum saat ini potensi terjadinya permainan sangat terbuka dan mungkin terjadi.
kami mengingatkan majelis hakim untuk tidak bermain main karena ada indikasi salah satu hakim anggota di hubungi oleh oknum jaksa untuk mempengaruhi hasilnpersidangan dan kami tahu ini jadi tegak lurus saja anda kan wakil tuhan hormati jabatan anda jangan tergiur oleh uang.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
